Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Februari 2012

Setangkai Mawar Untuk Ibu

0 komentar

Di depan sebuah toko bunga, seorang pria menghentikan mobilnya tepat di depan toko tersebut. Ia bermaksud ingin memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal sejauh 200 km darinya. 

Begitu pria itu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di atas trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu lalu menghampiri gadis kecil tersebut dan menanyai mengapa ia menangis. "Hai adik kecil, kenapa kau menangis?"

Gadis kecil itu pun menjawab, “Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya hanya memilki uang Seribu Rupiah saja. Sedangkan harga mawar itu Lima Ribu Rupiah”.

Pria itu pun tersenyum, lalu ia berkata. “Ayo ikut denganku, aku akan membelikan bunga yang kamu mau.”

Gadis kecil itupun segera mengikuti pria tersebut masuk kedalam toko bunga. Pria itu membelikan setangkai mawar merah untuknya, sekaligus memesan karangan bunga untuk dikirimkan kepada ibunya.

Setelah semuanya selesai dan hendak pulang, pria itu menawarkan diri untuk mengantar si gadis kecil pulang ke rumah. Gadis kecil itu pun melonjak gembira, katanya, "Ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan saya ke tempat ibu saya lebih dulu?”

"Baik, aku akan mengantarkanmu kemana saja." jawab pria itu sambil tersenyum.

Kemudian mereka berdua menuju ke sebuah tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yang ternyata merupan sebuah komplek pemakaman umum. Setelah mereka tiba di sana, gadis kecil itu segera keluar dari mobil dan berlari menuju sebuah makam, ia kemudian meletakkan setangkai bunga mawar miliknya pada makam tersebut.

Melihat hal ini, pria itu lalu mendekati gadis kecil tersebut dan bertanya. "Makam siapa ini adik kecil?"

Dengan wajah penuh rasa gembira dan haru, gadis itu menjawab. "Ini adalah tempat tinggal ibu saya. Saya senang mengunjunginya di sini walau pun saya harus berjalan puluhan kilo meter, saya akan tetap mengunjungi ibu saya." 

Mendengar jawaban gadis kecil itu, hati pria tersebut menjadi terenyuh dan teringat akan sesuatu. Akhirnya setelah mengantarkan gadis kecil itu pulang, ia bergegas kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan paket kirimannya dan ingin mengantarkannya sendiri. Dalam hati, ia menyadari bahwa jarak bukanlah suatu batasan untuk menjumpai orang yang dikasihi.

Jumat, 17 Februari 2012

Duka di Tengah Perjalanan

0 komentar

Di kejauhan lampu lalu lintas diperempatan itu masih menyala hijau. Seorang pria sebut saja Jack, segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tidak mau terlambat apalagi perempatan cukup padat, sehingga lampu merah menyala cukup lama. Lampu berganti kuning hati Jack berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya. 3 Meter menjelang garis jalan lampu merah menyala, Jack bimbang haruskah ia berhenti atau terus melaju. “Ah..., aku tidak punya waktu untuk menginjak rem mendadak” pikir Jack sambil terus melaju.
Tiba-tiba ia mendengar suara peluit, tampak di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya  untuk berhenti. Jack menepikan kendaraan sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu yang tak lain adalah Bobby, teman mainnya semasa SMU dulu. Kemudian Jack memutar keluar sambil membuka kedua lengannya sambil berkata “Hai bob, senang sekali bertemu kamu di sini”.

“Hai jack” jawab bobby tanpa senyum.

“Waduh sepertinya saya kena tilang lagi. Saya memang agak buru-buru Bob. Maklum hari ini istri saya ulang tahun, dia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya.” Jack mencoba berkilah.

“Hmmm..., sebenarnya saya mengerti, tapi sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini. Sekarang berikan SIM mu Jack”, jawab Bobby.

Kemudian ia menuliskan sesuatu di buku tilangnya. Melihat sikap Bobby yang dingin, Jack masuk ke mobil dan memandangi wajah Bobby dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca mobil itu sedikit cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bobby kembali ke posnya, dan Jack mengambil surat tilang yang diselipkan bobby di sela kaca jendela. Tapi ternyata SIM nya dikembalikan bersama dengan sebuah nota tulisan tangan bobby yang isinya sebagai berikut:
“Halo jack, tahukah kamu Aku dulu memiliki anak perempuan. sayang dia telah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama tiga bulan, begitu bebas ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada, kami terus berusaha dan berharap agar tuhan mengkaruniai kami seorang anak agar bisa kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu, betapa sulitnya Jack. Begitu juga kali ini, maafkan aku teman, doakan agar permohonan kami terkabulkan. berhati-hatilah dijalan. Salam Bobby."
Setelah membacanya, Jack terhenyak dan langusng mencari Bobby, tetapi ia telah meninggalkan pos. Dan sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan.

***

Kawan, Tidak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi tawa kita tidak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati.

Rabu, 15 Februari 2012

Maaf dan Perbuatan

0 komentar

Suatu hari, seorang pria yang telah banyak menaggung kesalahan datang menemui seorang bijak dengan harapan ia akan mendapatkan petunjuk bagaimana memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan. "Guru, saya mempunyai banyak dosa, saya sering memfitnah, berbohong, dan menggosipkan orang lain dengan banyak hal-hal yang buruk. Sekarang saya menyesal dan ingin meminta maaf lahir kepada mereka. Bagaimana caranya agar Tuhan, dan mereka yang pernah saya sakiti mengampuni semua kesalahan saya?"

Mendengar hal itu, sang bijak berkata. "Baiklah, kalau begitu tolong kau ambil bantal di temapt tidurku. Kemudian bawalah ke alun-alun kota, dan setelah di sana bukalah bantal itu sampai bulu-bulu ayam dan kapas yang ada di dalamnya terbang ditiup angin. Itulah bentuk hukuman dari kata-kata jahat yang pernah keluar dari mulutmu."

Meski kebingungan, peria itu menerima apa yang telah diperintahkan kepadanya. Di alun-alun ia membuka bantal tersebut, dan dalam sekejap bulu ayam dan kapas berterbangan tertiup angin. Setelah selesai melakukan hukuman itu ia kembali menemui sang bijak dan bertanya, "saya telah melakukan apa yang guru perintahkan, apa itu berati saya telah diampuni?"

Mendengar hal itu, sang bijak menggelengkan kepala dan berkata "Kamu belum mendapatkan pengampunan, kamu baru menjalankan setengah hukumanmu. Kini kembalilah ke alun-alun dan pungutlah kembali bulu-bulu ayam dan kapas yang tadi berterbangan ditiup angin."

***

Kawan, Kata-kata yang telah keluar dari mulut kita, selalu akan mengema selamanya, bahkan tidak perduli berapa kali kita memohon maaf. Sama seperti kapas dan bulu ayam yang berterbangan tertiup angin, selamanya kita tidak akan pernah mampu untuk mengumpukannya kembali. Memang sebuah permintaan maaf akan mengobati banyak hal, namun semua itu tidak akan ada artinya jika kita mengulanginya kembali.

Selasa, 14 Februari 2012

Cinta Seorang Ibu

0 komentar

Dahulu, di sebuah desa hiduplah seorang ibu yang sudah tua bersama dengan seorang anak laki-lakinya. Sang ibu sering merasa sedih memikirkan anak satu-satunya itu, sebab si anak mempunyai tabiat yang sangat buruk. Ia suka mencuri, berjudi, mabuk-mabukan dan banyak lagi kenakalannya yang lain. 

Hampir setiap hari sang ibu selalu berdoa memohon kepada Tuhan untuk anaknya, "Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi supaya tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah sangat tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati." 

Namun, semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatannya. Suatu hari ia kembali mencuri di rumah salah satu penduduk desa. Malang, kali ini ia tertangkap dan dibawa penduduk menghadap Raja untuk diadili. Karena ulahnya yang selalu menimbulkan keresahan warga, akhirnya sang Raja memutuskan ia harus dihukum pancung di alun-alun desa dua hari lagi tepat jam enam pagi saat lonceng dibunyikan.

Akhirnya kabar tentang hukuman itu sampai ke telinga sang ibu, iapun menangis meratapi anak yang dikasihinya  itu akan dipancung. Sepanjang malam ia berdoa kepada Tuhan “Tuhan ampunilah anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini menanggung dosa-dosanya."

Keesokan harinya dengan tertatih-tatih ia mendatangi sang Raja untuk memohon ampunan bagi anaknya dan dibebaskan dari segala hukuman. Sebagai gantinya, ia rela menaggung semua hukuman itu. Tapi keputusan   sang Raja sudah bulat, anakknya harus menjalani hukumannya tersebut besok pagi. 

Dengan hati yang hancur setelah gagal membujuk sang Raja, ibu itupun kembali ke rumahnya. Di rumah, ia kembali berdoa agar anaknya diampuni dan diselamatkan.

Keesokan harinya, semua orang berbondong-bondong berkumpul di alun-alun, dan sang algojo sudah siap dengan pedangnya. Di sisi lain, pemuda itupun sudah pasrah dengan nasibnya. Terbayang di matanya wajah sang ibu yang sudah tua harus menjalani sisa hidupnya sendirian. Tanpa terasa ia menangis menyesali  semua perbuatan yang selama ini telah dilakukannya. 

Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Namun lonceng sebagai penanda dimulainya hukuman pancung itu belum juga berdentang. Bahkan setelah matahari mulai meninggi, tetap saja sura dentangan yang ditunggu belum juga terdengar. Masyarakat yang ada di sana mulai berisik, mereka bingung mengapa sampai saat itu lonceng belum juga berbunyi. 

Akhirnya orang yang bertugas membunyikan lonceng dipanggil untuk menghadap sang Raja guna menjelaskan mengapa ia tidak membunyikan lonceng. Si petugas itu mengaku heran, karena sudah sejak tadi ia menarik tali untuk membunyikan lonceng, namun tetap saja suara dentangannya tidak ada. 

Rajapun beserta para masyarakat bergegas mendatangi lonceng tersebut untuk mencari tahu apa sebenarnya terjadi. Saat mereka semua sedang bingung, tiba-tiba dari tali lonceng itu mengalir darah tempat di mana lonceng itu diikat. Dengan penuh kebingungan Rajapun memerintahkan beberapa orang untuk naik ke atas  menyelidiki apa dan darimana sumber darah itu berasal.

Ternyata di dalam lonceng itu ditemui tubuh seorang ibu tua tengah memeluk bandul lonceng dengan kepalanya hancur berlumuran darah. Ibu tua itulah yang menjadi penyebab lonceng tidak dapat berbunyi, sebagai gantinya ia merelakan kepalanya terbentur di dinding lonceng. 

Semua orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan iba melihat perjuangan ibu tersebut. Sementara si anak, meraung-raung sambil memeluk tubuh ibunya. Ia menyesal, selama hidupnya ia selalu menyusahkan ibunya, bahkan sang ibu rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk menyelamatkannya dari hukuman pancung.

Senin, 13 Februari 2012

Betapa Cinta Itu Ada Jika Kita Mau Merasakannya | Kasih Ibu

0 komentar

Suatu hari, seorang gadis bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, ia pergi meninggalkan rumah tanpa membawa sesuatu apapun.

Hari telah menjadi malam, saat ia menyusuri sebuah jalan kecil di pinggiran kota. Kebetulan sekali di sana ia melihat sebuah kedai bakmi, dari sana  tercium aroma masakan yang sangat lezat.

Segera ia menghampiri kedai tersebut, namun betapa kecewanya ia setelah menyadari ia tidak memiliki uang sepeserpun, mungkin karena tadi  terburu-buru pergi meninggalkan rumah. Dalam hati ingin sekali ia memesan semangkuk bakmi yang nikmat itu untuk menghilangkan letih dan rasa laparnya. 

Si pemilik kedai yang melihat gadis itu berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu menghampiri gadis tersebut “Nona, apakah anda ingin memesan semangkuk bakmi?” 

”Ya, tapi saya tidak memiliki uang” jawab gadis itu dengan malu.

"Tak apa, masuklah. Aku akan menyediakan semangkuk bakmi dan segelas minuman hangat untukmu. Kau tidak usah membayarnya, anggap saja aku mentraktirmu. Kulihat tampaknya kau tengah letih dan lapar.” jawab si pemilik kedai sambil mempersilahkan gadis itu masuk dan duduk di sebuah kursi. 

Tidak lama kemudian, pemilik kedai datang membawakan semangkuk bakmi dan segelas minuman hangat untuknya. Gadis itupun segera melahapnya, namun setelah beberapa suapan gadis itu mengis. Si pemilik kedai menjadi heran, apa ada yang salah dengan bakmi buatannya. “Ada apa nona, kenapa anda menangis?”

“Oh tidak, tidak apa-apa. Saya hanya sdikit terharu" jawab gadis itu sambil mengeringkan air matanya. 

"Kalau boleh tahu, apa yang membuat mu terharu?" tanya sipemilik kedai lagi.

“Saya terharu karena anda, ada adalah seorang yang tidaksaya kenal, tetapi mau memberi saya semangkuk bakmi!, Sedangkan ibu saya sendiri setelah bertengkar dengan saya, malah membiarkan saja ketika saya katakan ingin pergi dari rumah. Bahkan ia mengatakan agar saya jangan kembali lagi.”  Sambil terisak-isak ia melanjutkan, “tetapi anda begitu peduli kepada saya, bahkan dari ibu kandung saya sendiri.”

“Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu dan berterimakasih kepadaku. Sedangkan ibumu telah memasak berbagai macam makanan yang lezat setiap hari bahkan sejak kau kecil, mengapa kau tidak terharu dan berterima kasih kepadanya? Bahkan kau meninggalkannya. Dialah orang yang seharusnya palin pertama layak mendapatkan terimakasihmu?” ucap si pemilik kedai sambil menatap gadis itu.

Mendengar ucapan si pemilik kedai, gadis itupun terhenyak beberapa saat. “Engkau benar, mengapa saya tidak berpikir hal itu. Ibu yang selama bertahun-tahun telah menyidiakan makanan lezat setiap hari untuk saya, saya bahkan tidak memperlihatkan kepedulian kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele saya bertengkar dengannya, bahkan sampai pergi meninggalkan rumah." 

"Pulanglah, ibumu pasti sangat mengkuatirkanmu" nasehat si penjual bakmi.

Segera setelah gadis itu menghabiskan bakminya, ia menguatkan diri untuk kembali ke rumahnya. Sepanjang perjalanan pulang, ia terus memikirkan kata-kata si penjual bakmi. Dalam hatinya, ingin sekali ia mencium kaki ibunya. 

Begitu sampai di rumah, ia melihat ibunya tampak letih dan cemas. Kalimat pertama yang ia dengar dari mulut ibunya adalah “Kamu sudah pulang? Masuklah, ibu telah menyiapkan makan malam untukmu. Makanlah dahulu sebelum kamu beristirahat, kelihatannya kau begitu lelah hari ini.”

Dengan perasaan menyesal dipeluknya sang ibu, sambil terisak ia berkata. "Bu..., maafkan Dini telah berkata kasar kepada ibu. Dini sayang ibu, karena ibu tak putus-putus memberikan Dini perhatian dan kasih sayang buat Dini. Dini tidak akan mengulanginya lagi Bu, Dini berjanji akan menjadi anak yang terbaik buat ibu, seperti ibu yang begitu baik kepada Dini"

Minggu, 12 Februari 2012

Kasih Cinta Sepanjang Masa

0 komentar

Ada seorang anak laki-laki yang senang sekali bermain-main di sekitar pohon apel besar yang tumbuh di tepi hutan. Anak itu senang memanjat dahan-dahannya hingga ke pucuk, menikmati buahnya yang lezat, bahkan tidur-tiduran di bawah rindangnya pohon apel itu. Ia sangat mencintai pohon apel tersebut, begitu juga sebaliknya. Pohon apel itupun sangat mencintainya. 

Waktu terus berlalu, kini anak laki-laki itu telah tumbuh besar dan tidak lagi setiap hari bermain-main di sekitar pohon apel. Suatu hari, ketika anak laki-laki yang telah tumbuh besar itu mendatangi pohon apel, ia melihat pohon apel tersebut tampak sedih. "Kemarilah... kita bermain-main lagi seperti dahulu," ajak pohon apel itu kepadanya. 

"Maaf, aku bukanlah anak kecil lagi yang bermain- main dengan sebatang pohon apel," jawab anak itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."

"Wahh..., sayang sekali aku juga tidak mempunyai uang. Tetapi kau boleh mengambil semua buah-buahku lalu menjualnya agar kau memeproleh uang untuk membeli mainan kegemaranmu itu." Ujar si pohon apel dengan suka cita.

Mendengar hal itu, Anak laki-laki tersebut amat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon  itu dan segera menjualnya ke pasar. Seminggu telah berlalu, namun si anak laki-laki itu tidak pernah datang  lagi mengunjungi si pohon apael. Sampai suatu hari, anak itu melintas di dekat pohon apel itu tumbuh. Pohon apel pun sangat senang melihatnya, "Ayo... kita bermain-main lagi," katanya.

"Aku tak punya waktu untuk bermain-main," jawab anak itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Bisakah kau menolongku?"

"Maaf, aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh memotong semua dahan dan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel dengan ceria.

Segera anak itu memotong semua dahan dan ranting si pohon apel. Ia merasa gembira, karena kini ia telah memiliki bahan untuk membangun rumahnya. Pohon apel itupun juga merasa bahagia melihat anak laki-laki itu senang, tapi ia kembali merasa kesepian dan sedih karena setelah begitu lama, anak laki-laki itu tidak pernah lagi mengunjunginya.

Pada suatu musim panas, tiba-tiba anak lelaki itu datang kembali. Dengan perasaan bahagia, pohon apel mennyambut kedatangannya. "Ayo kita bermain-main lagi seperti dulu," ajak si pohon apel. 

"Aku sedih," kata anak itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"

"Wah, maafkan aku, aku tidak memiliki sebuah kapal. Tapi kau boleh menebangku untuk membuat sebuah kapal. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah." 

Kemudian, anak itupun menebang pohon apel tersebut, dan hanya menyisakan akarnya saja. Lalu dibuatnya sebuah kapal yang indah dari kayu  pohon apel itu. Setelah kapal itu selesai dibuat, iapun pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui si pohon apel.

Setelah sekian tahun lamanya, anak laki-laki yang kini telah renta mendatangi tempat di mana poho apel yang dulu tumbuh. "Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu." 

"Tak apa. Aku pun sudah tidak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak itu. 

"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat sekarang," kata pohon apel.

"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak laki-laki itu. 

"Kini aku benar-benar sudah tidak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air matanya. 

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak tersebut. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."

"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang." 

Kemudian anak laki-laki itu berbaring di pelukan akar-akar si pohon apel. Pohon apel itu sangat gembira, iapun tersenyum sambil meneteskan air matanya.

***

Kawan, kisah di atas adalah kisah kehidupan kita. Pohon apel itu adalah kedua orang tua kita. Dulu, ketika kita masih kecil, setiap hari kita selalu dekat dan ceria bermain dengan mereka. Namun ketika kita mulai tumbuh besar, kita mulai menjauh dari mereka, sibuk dengan mainan, teman, dan hal-hal lainnya. Hanya sesekali datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesusahan. Tapi, sungguh luar biasa, meski bagaimanapun, orang tua kita akan selalu ada untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.

Kawan, jagan pernah berhenti untuk mencintai mereka. Katakan betapa kita mencintai, dan sangat berterima kasih atas seluruh budi yang telah dan akan diberikannya pada kita. Ingatlah bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang mampu menandingi jasa seorang ayah dan ibu terhadap kehidupan kita.

Keledai Tua yang Cerdik

0 komentar

Suatu hari keledai milik seorang petani terperosok ke dalam sebuah sumur yang dalam. Hewan itupun menangis dan menjerit dengan memilukan berjam-jam lamanya, sementara si petani bingung memikirkan apa yang harus dilakukannya untuk menolong keledai tersebut.

Akhirnya, si petani pun memutuskan untuk menimbun sumur itu karena baginya hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun. Tidak ada gunanya lagi menolong keledai tersebut. 

Lalu si petani mengajak tetangga untuk datang membantunya menimbun sumur tersebut. Mereka membawa sekop dan mulai menyekopkan tanah ke dalam sumur. dalam pikiran si petani, "biarlah sumur itu menjadi kuburan keledai tuanya". 

Pada mulanya, ketika keledai tua itu menyadari apa yang tengah terjadi, ia sedih, menangis, dan meringkik penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub karena si keledai menjadi diam, tidak ada suara ringkikan lagi dari dalam sumur meski mereka terus menurus melemparkan tanah.  

Karena penasaran, si petani itupun melongokan kepalanya ke dalam sumur. Ia tercengang melihat apa yang terjadi, keledai tua itu menggoncang-goncangan badannya agar tanah yang menimpa tubuhnya turun ke bawah, lalu ia menaiki tanah tersebut sebagai pijakan. Sementara, tetangga petani itu terus menuangkan tanah kedalam sumur. Sedangkan si keledai, terus mengguncangkan badannya melangkah naik sedikit demi sedikit.

Tanpa terasa, sumur tua itupun kini penuh dengan tanah. Dan keledai tua tersebut terbebas dari maut.

Kawan, cerita ini adalah tentang kehidupan kita. Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotorannya kepada kita berupa kesedihan dan masalah. Cara untuk keluar dari "sumur" atau kesedihan itu, adalah dengan mengguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita yaitu pikiran dan hati kita. Lalu jadikanlah tanah dan kotorna itu sebagai pijakan untuk bisa melangkah naik dari sumur masalah dan kesedihan.

Sabtu, 11 Februari 2012

Harga Sebuah Keajaiban

0 komentar

Sally adalah seorang gadis kecil yang masih berusia delapan tahun. Suatu hari ia mendengar percakapan ibu dan ayahnya mengenai adik lelakinya Georgia yang menderita sakit amat parah. berbagai cara telah mereka lakukan untuk mengobatinya, namun tetap saja sakit yang diderita Georgia tidak kunjung sembuh.

"Hanya dengan operasi itu kita dapat menyelamatkannya", ujar ayah Sally dengan nada sedih.

"Tapi bagaimana kita mendapatkan uang untuk membiyayainya, ongkosnya saja pasti sangat mahal, dan kita tidak punya uang untuk itu." Ujar ibu Sally menanggapi. Lalu sambil berbisik ia berkata, “Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang.”

Mendengar hal itu, Sally berlari ke tempat tidur dan mengambil celengan yang telah lama ia simpan. Dikeluarkannya semua isi celengannya tersebut ke atas lantai dan menghitung secara cermat. Ternyata uang yang ia milikki adalah Satu Dollar Sepuluh Sen.

Segera Sally menyelinap keluar rumahnya dan pergi ke apotik di sudut jalan. Dengan sabar ia menunggu apoteker yang tengah sibuk melayani orang lain untuk memeperhatikannya. Tetapi apoteker tersebut terlalu sibuk untuk diganggu oleh seorang anak berusia delapan tahun. Sally tidak habis akal,  digoyang-goyangkanyan kaki apoteker itu untuk mendapat perhatian. Namun tetap saja apoteker itu tidak perduli kepadanya. Akhirnya diambilnya sebuah uang koin dan melemparkannya ke kaca etalase. Kali ini berhasil, si apoteker segera menoleh kepadanya.

"Apa yang kamu perlukan anak kecil?, aku sedang berbicara hal penting dengan saudaraku” bentak apoteker tersebut dengan suara marah."

“Tapi, saya ingin berbicara kepadamu mengenai adik saya,” Sally menjawab dengan nada yang sama. “Dia  sedang sakit, dan saya ingin membeli keajaiban.”

"Apa yang kamu katakan?," tanya si apoteker.

"Ibu saya mengatakan hanya keajaiban yang biasa menyelamatkan jiwa adik saya sekarang, jadi berapa harga keajaiban itu. Saya pasti akam membelinya ?” Ujar Sally penuh semangat.

“Kami tidak menjual keajaiban adik kecil. Aku tidak bisa menolongmu.”

“Dengar, saya mempunyai uang untuk membelinya. Katakan saja berapa harganya?"

Tiba-tiba ada seorang pria berpakaian rapi mendekati Sally dan bertanya, “Keajaiban jenis apa yang dibutuhkan oleh adikmu?”

“Saya tidak tahu,” jawab Sally sambil meneteskan air matanya. “Saya hanya tahu dia sakit parah dan papa mengatakan bahwa ia membutuhkan operasi. Tapi kedua orang tua saya tidak mampu membayarnya. Hanya keajaiban yang dapat menyelamatkan nyawa adik saya, dan saya ingin membelinya dengan uang yang saya milikki.”

“Berapa uang yang kamu milikki?” tanya pria itu lagi.

“Satu Dollar Sepuluh Sen,” jawab Sally dengan bangga. “Dan itulah seluruh uang yang saya miliki di dunia ini.”

"Wah, kebetulan sekali,” kata pria itu sambil tersenyum. “Satu Dolar dan Sepuluh Sen?, itu harga yang tepat untuk membeli sebuah keajaiban untuk dapat menolong adikmu”. 

Laki-laki itu mengambil uang yang dimilikki Sally lalu memegang tangannya sambil berkata, “Bawalah saya kepada adikmu, saya ingin bertemu dengannya dan juga orang tuamu.”

Pria tersebut adalah Dr. Carlton Armstrong, seorang dokter ahli bedah yang kemudian mengoperasi adik Sally tanpa biaya. Tidak lama setelah operasi tersebut, akhirnya Georgia dapat pulang ke rumah dalam keadaan sehat. Kedua orang tuanya sangat bahagia mendapatkan keajaiban tersebut. “Semua ini seperti sebuah keajaiban saja. Saya tidak dapat membayangkan berapa harganya” bisik ibu Sally kepada ayahnya.

Sallypun hanya tersenyum mendengar hal itu. Dalam diam, ia tahu secara pasti berapa harga keajaiban tersebut, harganya adalah Satu Dollar Sepuluh Sen dan ditambah keyakinan.

Fokuskan Tujuan

0 komentar

Suatu ketika, hiduplah seorang guru bijak yang mahir memanah dan 3 orang murid setianya. Dengan berjalannya waktu dan didikan yang diberikan sang guru, ketiga murid tersebut kini menjadi 3 orang pemanah  ulung. Bidikan mereka sangat akurat, bahkan telah banyak burung yang berhasil mereka taklukkan.Akhirnya tibalah saat bagi sang guru untuk memberikan ujian kepada mereka. 

Kemudian sang guru bijak itu memilih lokasi yang akan digunakan untuk ujian mereka. Pilihannya jatuh pada sebuah pohon besar dengan latar pemandangan gunung yang indah. Lalu diletakkannya burung-burungan kayu pada salah satu dahan pohon tersebut. 

Setelah mengambil jarak beberapa puluh meter, sang guru bertanya, “Wahai murid-muridku, lihatlah ke arah gunung di sana!, apa yang akan kalian bidik ?”

Murid pertama maju ke depan sambil ia menyiapkan busur dan anak panahnya. Dengan penuh percaya diri ia berkata, “Aku melihat sebuah batang pohon guru. Itulah sasaran bidikanku.”

Sang guru tersenyum sambil memberikan tanda agar muridnya itu menunda bidikannya.

Sesaat kemudian, murid kedua maju ke depan. “Aku melihat ada seekor burung yang sedang bertengger di salah satu dahannya, itulah sasaran bidikanku. Biarkan aku memanahnya Guru." Tuturnya dengan yakin.

Sang guru kembali tersenyum. Sama seperti sebelumnya, ia mengisyaratkan agar si murid kedua menunda bidikannya. 

Karena tidak ada reaksi dari murid ketiga. maka sang guru bertanya kepadanya. “Apa yang kau lihat di sana?”

Murid ketiga tersebut hanya diam. Ia mengambil sebuah anak panah dan merentangkannya pada busur miliknya sambil membidik ke arah pohon tersebut. “Aku melihat bola mata seekor burung-burungan kayu di pohon sana guru, itulah bidikanku.” Ujarnya sambil menurunkan busur miliknya.

Sang Guru kembali tersenyum, namun kali ini dengan rasa bangga yang penuh. “Muridku, sejujurnya kalian semua layak untuk lulus ujian ini. Namun, ada satu hal yang perlu kalian ingat dalam memanah.

Fokus, dan selalu fokus. Tentukan bidikan kalian dengan cermat. Karena tujuan yang jelas, akan selalu meniadakan hal-hal yang menjadi pengganggunya.”

Ia kembali melanjutkan,”Sebuah keberhasilan bidikan, akan ditentukan dari tingkat kesulitan yang dihadapinya. Sebuah pohon besar dan burung, tentu adalah sasaran yang paling mudah untuk di dapat. Namun, bisa mendapatkan bidikan pada bola mata burung-burungan kayu, itulah yang perlu terus kalian gali.

Kawan, seperti itulah tujuan kita. Sama seperti dalam memanah, kita perlu mempunyai arah dan fokus terhadap sasaran tujuan kita. Memang, akan selalu ada banyak godaan dan pilihan yang harus kita bidik. Selalu ada ribuan sasaran yang akan kita tuju dalam hidup ini. Ada yang mudah, dan ada pula yang sangat mudah, karena tidak ada yang sulit bagi yang mau berusaha.

Jelilah dalam melihat tujuan. Cermatlah dalam sebuah peluang. Dan, tentukanlah tujuan itu dengan tetap terfokus kepada setiap sasaran. Mari, bidikkan anak panah kita dengan tujuan, kecermatan, dan fokus yang terarah. Bukankah, nilai dalam sebuah lomba memanah itu diukur dari lingkaran yang terkecil?

Makan Malam Romantis

0 komentar

Setelah 20 tahun menikah, saya tiba-tiba menemukan cara baru dalam menyalakan api cinta kami. Api yang muncul tak terduga dari orang-orang yang begitu berharga. Tapi rasa cinta itu jarang saya sadari kehadirannya, mungkin karena sudah terlalu terbiasa dengannya.

Ceritanya bermula dari suatu waktu, istri saya menganjurkan agar saya berkencan dengan seorang perempuan lain. Tapi ketika saya protes dan mengajaknya untuk ikut, ia justru mengatakan bahwa itu acara khusus untuk saya.  Ternyata perempuan yang dimaksudnya adala Ibu saya sendiri yang telah menjanda selama 19 tahun. Saya jarang menemuinya memang karena kesibukan kerja dan mengurus keluarga dan tiga orang anak kami.

Ibu saya adalah type orang yang cepat curiga kalau menerima telepon ditengah malam, atau menerima undangan yang datangnya tiba-tiba. bagi beliau itu pasti akan membawa berita buruk. "Ada apa dengan istrimu?" kata ibu dari ujung telepon. 

"Oh..., tidak ada apa-apa bu. Saya pikir sudah lama saya tidak menemani ibu untuk makan malam dan mengajak ibu jalan. Pasti akan menyenangkan, apakah ibu mau menerima ajakan saya ini?" 

"Oh itu, ibu kira ada apa.  Baik, ibu setuju", jawabnya setelah terdiam beberapa lama.

Besok malam, sepulang kantor saya langsung ke rumah ibu. Beliau terlihat begitu gembira dan berdandan resmi sekali. Beliau kelihatan telah mendandani dirinya dengan sangat anggun, dan mengenakan gaunnya yang terbaik. Gaun yang beliau itu, adalah pakai pada pesta ulang tahun perkawinannya yang terakhir ketika ayah masih hidup. 

Ibu menyambut saya dengan senyum lebar. "Kamu tahu nak, tadi Ibu bilang keteman-teman tentang rencana kita ini. Mereka semua kaget dan merasa ikut senang seperti ibu sekarang. Mereka bilang besok pagi ingin tahu ceritanya," kata ibu seraya masuk ke dalam mobil.

Saya cuma tersenyum, lalu kami pergi ke restoran yang agak mahal. Suasananya betu elegan dan menyenangkan. Ketika kami memasuki restoran itu, ibu menggandeng lengan saya dengan hangat. 

Saya harus membacakan daftar menu karena ibu tak bisa lagi membacanya walau dengan kacamata tebal. Ketika sedang membaca daftar itu, saya berhenti sejenak melihat ibu yang sedang memandangi saya dengan senyuman. "Dulu, ibu yang membacakan kamu daftar menu ketika kau masih kecil," katanya dengan mata menerawang.

"Haha..., ibu santai saja. Sekarang giliran saya yang melayani ibu," jawab saya dengan lembut. 

Sambil makan, kami membincangkan banyak hal sehari-hari. Tidak ada topik yang istimewa, tapi obrolan  kami mengalir begitu saja sampai-sampai kami terlambat menonton film.

Disaat mengantar ibu pulang, beliau berkata di dpean pintu. "Anakku, ibu mau pergi lagi denganmu, tapi lain kali ibu yang akan bayar." Sayapun mengangguk setuju. 

Sesampai di rumah istri sayapun bertanya, "Bagaimana dengan kencanmu?"
 
"Sangat menyenangkan. Lebih dari yang saya duga. Tadinya saya tidak tahu mau ngomongin apa sama ibu." jawab saya dengan senang. 

Beberapa hari kemudian, ibu meninggal dunia karena serangan jantung. Begitu mendadak kejadian itu, sehingga saya tidak sempat berbuat apa-apa untuk menolong ibu.

Satu minggu berlalu, sepucuk surat tiba dari restoran tempat ibu dan saya makan malam. Surat itu dilampiri kopi tanda lunas, dan ada selembar kertas yang diselipkan di situ yang bertuliskan: 
"Ibu sudah bayar makan malam kita, karena rasanya tak mungkin kita makan bersama lagi. Walaupun begitu, ibu sudah bayarkan untuk dua orang, barangkali kamu bisa gunakan untukmu dan istrimu. Terimakasih ankku, undangan makan malammu begitu berarti. Dari yang mencintaimu, Ibu.
Pada detik itu, saya mengerti apa pentingnya kita mengatakan kepada orang-orang yang kita sayangi mengenai perasaan kita.  Mengatakan pada orang yang kita sayangi bahwa kita sungguh mencintainya, selagi kita sempat. Karena itu, katakanlah cinta, jangan pernah menunggu. Siapa tahu, ketika cinta itu kita tahan saat akan mengucapkannya, orang  itu sudah tidak ada lagi.