Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Februari 2012

Jalan-jalan ke Monkasel [Monumen Kapal Selam] Surabaya

0 komentar
Satu lagi tempat yang layak di kunjungi di kota pahlawan, kemaren-kemaren ane uda posting beberapa tempat wisata di Surabaya yaitu Ekowisata Hutan Mangrove dan Museum Seni Budaya House of Sampoerna [HoS]. kali ini ane mau share tentang wisata Monumen Kapal Selam [Monkasel] yang ada di tepi sungai kalimas Surabaya. dari namanya saja kita pasti uda tahu apa yang ada di sana, yup, sebuah kapal selam. monumen ini bukan sekedar monumen biasa, melainkan sebuah kapal selam asli milik Angkatan Laut Indonesia yang di pensiunkan pada tahun 1990 dan kemudian dirakit ulang menjadi sebuah monumen untuk mengenang perjuangan Angkatan Laut, khususnya perjuangan kapal selam KRI Pasoepati 410 yang telah bertugas puluhan tahun demi menegakkan kedaulatan Republik Indonesia.

Akses menuju Monkasel [Monumen Kapal Selam] cukup mudah, jika naik kereta dan turun di Stasiun Gubeng kita tinggal jalan kaki, Monkasel terletak sekitar 100 m dari pintu belakang Stasiun Gubeng. jika naik bus turun di terminal Bungurasih, setelah itu naik bus kota jurusan Gubeng-THR.

tiket masuk Monkasel cukup murah yaitu Rp 2.500 / orang, pertama kita bisa masuk kedalam kapal selam KRI Pasoepati 410. di dalam kapal selam ini ada seorang tour guide yang akan menjelaskan fungsi-fungsi kapal selam beserta sejarah kapal selam tersebut.. KRI Pasoepati 410 memiliki 7 ruangan, ruang komandan (tempat tidur, dan ruang kerja), ruang awak kapal (tempat tidur, dapur, dan ruang makan), ruang mesin diesel, ruang torpedo depan, ruang torpedo belakang, ruang komando (pusat komando), dan ruang mesin listrik. pemandu akan membawa kita menjelajahi tiap ruangan dan menjelaskan fungsi-fungsi mesin kapal selam serta sejarah seputar kapal selam KRI Pasoepati 410. setelah puas menjelajah kapal selam KRI Pasoepati 410 kita bisa melanjutkan menuju Video Rama (sebuah bioskop mini) dan menonton film sinematik seputar sejarah Angkatan Laut Indonesia dan partisipasi KRI Pasoepati 410 dalam operasi-operasi militer Angkatan Laut Indonesia.

di dalam kapal selam KRI Pasoepati 410
setelah selesai menonton film sejarah kita bisa nongkrong di Cafe sambil menikmati live music, atau bercengkerama di tepi kalimas.. kalau malam hari suasananya akan sangat nyaman, nongkrong di tepi kalimas sambil menikmati pemandangan lampu-lampu kota. pertama kali saya masuk Monkasel pada malam hari, dan yang kedua saya kesana pada siang hari. saat masuk Monkasel siang hari saya tidak terlalu bisa menikmati wisata sejarah ini, selain panas saya juga tidak mendapatkan view yang terlalu bagus dari tepi kalimas.

fasilitas lain yang ada di Monkasel [Monumen Kapal Selam] adalah kolam renang anak-anak, dan sebuah panggung pertunjukan untuk event-event tertentu.

anyway, Monumen Kapal Selam [Monkasel] cukup menarik dikunjungi jika anda sedang traveling ke Surabaya. Wisata sejarah ini bisa menambah wawasan kita seputar sejarah Angkatan Laut Indonesia dan KRI Pasoepati 410.

view jembatan Kalimas dari Monkasel pada malam hari

Jumat, 03 Februari 2012

HOUSE OF SAMPOERNA - Tempat yang Wajib di Kunjungi di Surabaya

0 komentar
House Of Sampoerna
Museum House of Sampoerna [HoS] merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjungi jika anda sedang traveling ke Surabaya. museum ini selain sarat akan nilai seni, budaya, dan sejarah, juga memberikan kenyaman yang istimewa kepada pengunjungnya. kesan Surabaya sebagai kota panas, berdebu, atau bising tidak akan anda temukan disini. suasana House of Sampoerna sangat nyaman, dan mampu mengajak kita untuk kembali. selain mengkoleksi benda-benda penting dalam sejarah Sampoerna dan berbagai koleksi kesenian, museum ini juga memberikan kita tempat untuk bersantai sambil menikmati kopi di The Cafe yang anggun. satu lagi yang perlu dicatat, tidak ada tiket masuk di museum ini. kita bisa menikmati kenyamanan, keanggunan, dan kemewahan yang diberikan House of Sampoerna dengan GRATISSS..


House of Sampoerna juga menyediakan tur keliling kota Surabaya dengan menggunakan sebuah bus, dalam tur ini pengunjung museum dibawa berkeliling kota Surabaya Lama yaitu Tugu Bahlawan, Balai Kota, Pecinan, Kampung Arab, dll. tour yang diadakan House of Sampoerna ini disebut Surabaya Heritage Tour, untuk mengikuti tour ini pengunjung hanya perlu mendaftar pada petugas - TANPA di pungut biaya sepeser pun alias GRATIS! :) tour ini diadakan setiap hari Selasa sampai hari Minggu, setiap hari ada tiga tur yang membawa pengunjung menikmati budaya kota Surabaya yaitu antara jam 09.00 sampai jam 17.00 WIB.

pada tahun 2011, majalah National Graphic Traveler Indonesia mengadakan riset tentang museum terfavorit di Indonesia, museum di Indonesia dibagi menjadi tiga kategori yaitu museum sejarah, museum iptek, dan museum seni budaya. dari tiga kategori tersebut, House Of Sampoerna berada di urutan nomor satu untuk kategori Museum Seni dan Budaya. memang tidak mengherankan House of Sampoerna terpilih menjadi yang pertama.

terpilihnya House Of Sampoerna [HoS] dalam kategori seni dan budaya menunjukkan kesempurnaan pembangunannya bahwa beginilah seharusnya museum, yaitu selalu bisa mengundang pengunjung untuk kembali, bukan sekedar mengajak menikmati koleksi.

Museum sejarah Sampoerna ini menempati bangunan kuno dua lantai buatan tahun 1864 di kawasan Surabaya Lama. Liem Seeng Tee [pendiri Sampoerna], membelinya pada tahun 1913, untuk rumah keluarga dan pabrik pertama.

begitu membuka pintu kayu lebar gedung utama, sambutan sejuk kolam ikan koi kontras dengan hawa Surabaya yang panas. Kepiawaian pemandu mengajak kita menikmati koleksi beralur searah jarum jam di tiga ruang; dari replika warung pertama Liem Seeng Tee, sepeda onthel untuk jualan arang yang dibeli Liem Seeng Tee dengan uang hasil menabung sejak usia 11 tahun (yang diperoleh dari menjadi asongan di kereta); beralih ke ruang kedua dimana terdapat jejak para buruh pabrik yang unjuk prestasi lewat Marching Band Sampoerna.

Deail sangat diperhatikan, seperti penataan ruang, pencahayaan, dll. di lantai dua, toko cendera mata menawarkan kriya khas Jawa Timur. Paviliun keluarga Budi Sampoerna kini jadi Art Gallery bagi karya seniman terkemuka yang diseleksi ketat agar seniman lain bisa belajar. Gedung art deco rumah tinggal utama keluarga Sampoerna kini jadi The Cafe. suasana dalam The Cafe sangat nyaman, ditambah lagi penataan ruang yang anggun dan dekorasi yang pas membuat kita betah berlama - lama disini. The Cafe  menyediakan wisata kuliner yang menarik. di sini terdapat paduan menu khas Indonesia, Asia, dan Eropa. bebrapa menu di The Cafe House of Sampoerna antara lain yaitu Wedang Kayu Manis (minuman hangat kayu manis, jahe, sereh, daun jeruk, dan gula jawa), Surabaya Sunrise (lemon, orange, mango concentrate, dan soda), Nasi Goreng Soka (kepiting), Asam-asam Iga, Nasi Goreng XO, Sob Buntut Goreng, dll. oh ya, jika anda berkunjung ke sini pada hari jum'at atau sabtu, anda akan dihibur alunan lembut live musik Jazz yang diadakan di The Cafe antara jam 19.00 sampai jam 22.00.

Museum House of Sampoerna menceritakan pada kita tentang semangat pantang menyerah Liem Seeng Tee, mengajarkan kita untuk berani bermimpi dan mengejar mimpi dengan penuh keyakinan. seperti yang telah dilakukan oleh Liem Seen Tee. jadi, jika anda sedang traveling ke Surabaya, sempatkanlah untuk mengunjungi House of Sampoerna.. anda akan mendapatkan kesan yang tak terlupakan tentang kota Surabaya. :)

suasana the cafe, house of sampoerna>>

Kamis, 02 Februari 2012

Jalan - jalan ke Blitar [Makam Bung Karno & Candi Penataran]

0 komentar
Ada apa sih di kota Blitar? kali ini ane mau posting tentang wisata religi dan sejarah di Blitar.. yup, di kota ini lah presiden pertama Indonesia di makamkan. Makam Bung Karno di Blitar merupakan tempat yang selalu ramai di kunjungi, baik oleh peziarah maupun oleh wisatawan. terletak di Bendogerit, Kecamatan Sanawetan - Blitar, di Makam Bung Karno juga terdapat sebuah museum tempat koleksi barang-barang peninggalan beliau seperti Keris, Baju Kebesaran, Lukisan Bung Karno, dll. yang paling menarik dari Museum Bung Karno adalah sebuah lukisan Bung Karno, jika anda melihat lukisan tersebut dari sudut pandang tertuntu dan mem-fokus kan mata anda pada jantung lukisan tersebut maka anda akan melihat jantung Bung Karno dalam lukisan masih berdetak!

sudah banyak yang mempertanyakan fenomena ini, kalau kata si penjaga makam lukisan tersebut merupakan lukisan keramat, penjaga makam banyak bercerita tentang hal-hal gaib / mistis soal lukisan Bung Karno tersebut. Bung Karno merupakan orang yang sangat memperhatikan nilai budaya dan banyak mempraktekkan tradisi kejawen yang sarat dengan nilai-nilai mistis / spiritual. karena itu Bung Karno banyak meninggkalkan benda-benda yang dianggap keramat. dan mungkin karena itu pula pengunjung dilarang mengambil gambar dalam museum. tapi dasar jiwa orang Indonesia memang jiwa pemberontak dan tidak mau tunduk sama aturan (hhehehe..) masih banyak yang suka nyolong2 mengambil foto dalam museum. termasuk ane juga sih.. #hehehehe.

di kompleks Makam Bung Karno banyak penjual oleh-oleh dan souvenir khas Blitar, jadi pengunjung selain bisa menikmati pesona mistis makam Bung Karno juga bisa berwisata kuliner atau membawa pulang souvenir khas Blitar.

selain makam Bung Karno, di Blitar juga terdapat beberapa candi peninggalan kerajaan Kediri. salah satu yang terkenal adalah Candi Penataran. candi ini terletak di Desa Penataran Kecamatan Nglegok, Blitar.

Sejarah mencatat Candi Penataran ini dibangun ketika Raja Srengga memerintah kerajaan Kediri. tepatnya pada 1194 Masehi. Candi Penataran dibangun dengan tujuan sebagai tempat pemujaan agar terhindar dari bencana letusan gunung Kelud. Candi Penataran mempunyai relief yang menceritakan kisah - kisah Hindu.

candi penataran
Petugas Candi Penataran mengatakan bahwa setiap purnama, Dewan Kesenian Kabupaten Blitar mengadakan pentas budaya Purnama Seruling Penataran di candi ini. saat festival tersebut digelar komplek wisata sejarah ini sangat ramai oleh pengunjung, baik warga lokal, wisatawan lokal, ataupun asing. hmmmm.. sepertinya sangat menarik, saya sendiri belum pernah menyaksikan festival tersebut. 

relief di candi penataran
Akses menuju Makam Bung Karno dan Candi Penataran cukup mudah, apabilia dari Malang atau Surabaya, kita bisa naik kereta dan turun di Stasiun Blitar. dari stasiun Blitar menuju Makam Bung Karno kita bisa menggunakan Delma. untuk menuju Candi Penataran kita bisa menggunakan angkutan umum. perjalanan menuju Candi Penataran lumayan jauh melewati bukit-bukit..

Selasa, 31 Januari 2012

Goa Pawon [Ekowisata kota Bandung] - Meresapi Kehidupan Purba di Goa Pawon

0 komentar
Bukit Pawon
GOA PAWON berada sekitar 30 km sebelah barat kota Bandung. Goa Pawon merupakan satu-satunya goa gamping terbesar di mana pernah ditemukan fosil manusia purba Homo sapiens. selain diminati para peneliti, goa ini juga dikenal sebagai arena panjat tebing dan objek ekowisata. jika mengunjungi goa ini hendaknya membawa penutup hidung karena aroma guano [kotoran kelelawar] yang menyengat akan langsung menyambut anda.

ketika memasuki Goa Pawon, anda akan mendapat kesan eksotis, indah, dan sekaligus menyeramkan. sedikit menyeramkan karena suasana dalam goa pawon benar - benar sepi dan gelap.

Terletak di 601 m dpl, Goa Pawon berada di puncak bukit Pawon yang merupakan daerah penambangan batu kapur, dan pada zaman dahulu merupakan  tepian Danau Bandung Purba. Berdasarkan hasil survai A.C. De Yong dan G.H.R. Von Koenigswald tahun 1930-1935* [*sumber majalah National Geographic Traveler],  ditemukan alat-alat budaya masa lalu dari bahan obsidian, kalsidon, kwarsit, rijang dan andesit berupa anak panah, pisau, penyerut, gelang batu, batu asah dari Jaman Preneolitik, yang hidupnya mulai menetap di gua-gua atau ceruk atau sering kali dijumpai di kawasan perbukitan gamping.

salah satu fosil di Goa Pawon
Goa Pawon memiliki panjang 38 m dan lebar 16 m, sedang tinggi atap gua tidak dapat diketahui secara pasti karena saat ditemukan bagian atap gua sudah runtuh. Hasil ekskavasi pada tahun 2003 dan 2004 berhasil ditemukan berbagai bentuk artefak, fitur maupun ekofak yang dapat mencirikan akan keberadaan situs tersebut dimasa lalu. Artefak yang terdiri dari pecahan keramik, gerabah, alat serpih, alat tulang berbentuk lancipan dan spatula, alat batu pukul (perkutor), sisa perhiasan yang terbuat dari gigi binatang dan gigi ikan, moluska dan temuan yang sangat signifikan dari keberadaan kehidupan masa lalu berupa kerangka manusia. Selain itu juga ditemukan non artefaktual seperti  fragmen tulang dan moluska. Keberadaanya di Goa Pawon besar kemungkinan terjadi karena adanya kaitan rantai makanan yang pernah terjadi di masa lalu, dalam hal ini sebagai bagian dalam pemenuhan kebutuhan bahan makanan (konsumsi) dan mungkin juga untuk dipergunakan dalam pembuatan peralatan hidup sehari-hari

Goa Pawon
Sejak ditemukannya fosil manusia purba di Goa Pawon, kawasan ini dijadikan situs arkelogi purbakala dibawah pengawasan dan pengelolaan Balai Besar Kepurbakalaan [Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat]. Goa Pawon dapat dicapai dari Bandung menuju Padalaran. jalan masuk menuju Goa Pawon ditandai dengan gapura anyaman. dari gapura tersebut teruslah susuri jalan utama hingga menemukan papan penunjuk kecil di kiri jalan yang menyatakan Goa Pawon berjarak sekitar 500 meter lagi. begitu menjumpai pos kecil, palang melintang, dan area parkir, berarti anda sudah tiba.

Sabtu, 28 Januari 2012

Patung Budha Tidur [The Sleeping Buddha] di Trowulan MOJOKERTO

0 komentar
The Sleeping Buddha - Trowulan Mojokerto, Jawa Timur
Apakah anda pernah berwisata ke daerah Trowulan, Mojokerto? jika belum anda pastinya mengira gambar disamping berasal dari negara Thailand atau China ataupun Tibet. tp percaya atau tidak, patung raksasa dalam foto ini berada di Jawa Timur, tepatnya      di
Trowulan Mojokerto. sebuah patung Budha tidur [the sleeping Buddha] berukuran raksasa.. patung Budha tidur ini terletak di Maha Vihara Majapahit, desa Bejijong, Trowulan - Mojokerto. Maha Vihara Majapahit memang difungsikan sebagai tempat ibadah umat Buddha, tapi meskipun demikian tidak ada larangan untuk pengunjung yang beragama lain.. Maha Vihara Majapahit terbuka bagi semua pengunjung yang ingin menikmati keindahan patung Budha tidur, tapi dengan syarat tidak boleh berisik.. memang para biksu dan biksuni di Maha Vihara Majapahit sangat menghargai ketenangan.

miniatur candi Borobudur
Patung ini didirikan sekitar tahun 1993 oleh YM Viryanadi Maha Tera. sedangkan Maha Vihara Majapahit sendiri sudah berdiri sejak Desember 1989. patung Budha tidur dengan panjang 22 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 4.5 meter ini di buat dari beton dan di pahat oleh pengerajin patung asal Trowulan. di sekeliling bawah patung juga terdapat ukiran-ukiran yang menceritakan kisah Buddha. selain itu, pengunjung juga akan menemui sebuah miniatur Borobudur serta berbagai relief indah di belakang bangunan utama

beberapa patung Budha di Maha Vihara Majapahit
untuk menuju ke Maha Vihara Majapahit, jika menggunakan angkutan umum bisa dengan naik minibus dan turun di Balai Perlindungan Benda Purbakala Trowulan. dari situ lalu berjalan kaki menuju Maha Vihara Majapahit. tempat ini juga dekat dengan berbagai situs peninggalan kerajaan Majapahit seperti Candi Brahu, Kolam Segaran, Candi Tikus, Candi Bajang Ratu, Museum Majapahit [Pusat Informasi Majapahit], dll.. jadi jika anda berwisata ke Trowulan, selain bisa menikmati keanggunan patung Budha tidur [The Sleeping Buddha] raksasa anda juga bisa melakukan wisata sejarah dengan menelusuri jejak peninggalan kerajaan Majapahit.

oh ya, beberapa sumber mengatakan bahwa The Sleeping Buddha [patung Budha tidur] di Trowulan merupakan patung Budha tidur terbesar ketiga di Asia. The Sleeping Buddha juga bisa di temui di Thailand, Jepang, Nepal, dan beberapa negara di Asia lainnya.. so, jika anda berwisata ke daerah Jawa Timur sempatkanlah mengunjungi patung Budha tidur ini, tidak ada biaya tiket masuk Maha Vihara Majapahit alias Gratis.. tapi pengunjung di haruskan untuk menjaga ketenangan alias ga boleh berisik. :)

Jumat, 27 Januari 2012

GUNUNG PENANGGUNGAN - Saksi Bisu Kejayaan Masa Lampau

0 komentar
Gunung Penanggungan
Dikenal memiliki nilai sejarah tinggi karena di sekujur lerengnya terdapat banyak peninggalan purbakala, baik berupa candi, pertapaan, ataupun petirtaan. peninggalan sejarah di gunung penanggungan berasal dari periode Hindu - Buddha di Jawa Timur.. gunung Penanggungan (atau dikenal sebagai gunung Pawitra yang artinya kabut) terletak di perbatasan Kab. Pasuruan dan Kab. Mojokerto. jika kita melakukan perjalanan darat Surabaya - Malang, selepas keluar dari jalan tol Gempol, akan terlihat gunung Penanggungan dengan kondisi puncaknya yang tandus, tampak
seperti miniatur Gunung Semeru.

Gunung Penanggungan berada dalam pegunungan Penanggungan yang terdiri dari Gunung Penanggungan (1.653 mdpl), dan beberapa bukit yang mengelilinginya yaitu Bukit Bakel (1.238 mdpl), Gajah Mungkur (1.084 mdpl), Sarah Klopo (1.235 mdpl), dan Bukit Kemuncup (1.238 mdpl). puncak gunung Penanggungan terdiri dari batuan cadas dan rerumputan. pada malam hari, udara di puncak penanggungan berkisar antara 10-15 derajat celcius, sedangkan pada siang hari berkisar antara 15-25 derajat celcius.

puncak berkabut Penanggungan - Desember 2010
Vegetasi yang menutupnya merupakan kawasan hutan dipterokarp bukit, hutan dipterokarp atas, hutan montane, dan hutan ericaceous atau hutan gunung. berbagai macam flora yang dijumpai di Gunung Penanggungan adalah jenis-jenis tanaman rimba seperti jempurit, kluwak, ingas, kemiri, dawung, bendo, wilingo, dan jabon. disana juga banyak ditemui tumbuhan seperti laos, kunir, dan jahe.

Medan yang ditempuh menuju puncak Penanggungan meliputi medan datar, landai, miring, berbukit, dan berjurang. di kaki gunung, keadaan medannya landai sampai sekitar 2 km, naik ke atas kemiringannya berkisar antara 30 sampai 40 derajat. di bagian perut gunung agak curam, berkisar 40 sampai 50 derajat. sampai di dada gunung banyak jurang-jurang dengan kemiringan berkisar antara 50 sampai 60 derajat. dari leher sampai puncak kita akan melewati medan curam berbatu, licin, dengan kemiringan berkisar antara 60 -70 derajat. sampai di puncak, batu-batu cadas akan nampak di sana-sini, dekat dengan puncak kita akan menemui sebuah goa kecil yang bisa di gunakan untuk berlindung dari badai.

referensi:
http://www.belantaraindonesia.org/2010/10/gunung-penanggungan.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Penanggungan

PENINGGALAN SEJARAH

Sekitar tahun 1920-an, terjadi kebakaran hutan di lereng Penanggungan bagian barat, kebakaran inilah yang mengawali penemuan puluhan situs arkeologi dan ratusan artefak di Gunung Penanggungan. Tahun 1925, WF Stuterheim mengadakan penelitian di Gunung Penanggungan kemudian menyimpulkan makna Penanggungan bagi masyarakat Jawa kuno. banyaknya bangunan suci di lereng Penanggungan membuktikan bahwa gunung Penanggungan erat kaitannya dengan tradisi pemujaan kepada para Dewa atau arwah leluhur. Bangunan suci itu berupa punden berundak, altar persajian, dan goa pertapaan yang berfungsi sebagai pelataran tempat dijalankannya ritual - ritual keagamaan Menurut WF Stutterheim, masyarakat jawa kuno menganggap gunung Penanggungan sebagai puncak gunung Semeru.

Penjelasan WF Stutterheim itu juga berdasar pada kitab Tantu Panggelaran. dalam kitab tersebut disebutkan bahwa Bhatara Guru menugaskan Brahma dan Wisnu untuk mengisi pulau Jawa dengan manusia. dan karena pulau Jawa selalu di landa goncangan, maka para dewa memindahkan gunung Mahameru dari India ke Jawa. dalam perjalanan memindahkan gunung tersebut, bagian Mahameru berguguran menjadi gunung - gunung yang berjajar di sepanjang pulau Jawa. tubuh gunung Mahameru diletakkan agak miring menyandar pada gunung Brahma (Bromo) dan enjadi gunung Semeru. puncak Mahameru sendiri adalah gunung Penanggungan. (cerita lain menyebutkan bahwa gunung penanggungan merupakan puncak dari gunung Arjuno, para Dewa memotong puncak gunung Arjuno untuk membangunkan arjuna dari pertapaannya)

VR Van Romondt, seorang arkeolog asal Belanda yang telah beberapa kali melakukan penelitian di gunung Penanggungan pada tahun 1951 mencatat terdapat sekitar 81 buah situs arkeologi di lereng Penanggungan. peninggalan sejarah tersebut telah banyak yang rusak karena kurangnya perawatan atau akibat bencana alam (longsor, badai, dll), pada awal era orde baru juga tidak jarang terjadi pencurian benda-benda arkeologi yang menyebabkan peninggalan sejarah di lereng Penanggungan semakin berkurang. pada tahun 1991, inventarisasi lebih lanjut dilakukan oleh DITLINBINJARAH mencatat tersisa sekitar 51 situs sejarah yang bisa di jumpai. Tahun 2010 jumlahnya menjadi sekitar 42.

referensi:
Asal Mula Gunung di Pulau Jawa - 2005, Pustaka Jaya
http://www.belantaraindonesia.org/2010/10/gunung-penanggungan.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Penanggungan

SAKSI BISU KEJAYAAN MASA LAMPAU

Gunung Penanggungan dianggap suci oleh masyarakat Jawa kuno, merupakan tempat mensucikan diri bagi para pertapa, raja-raja, keluarga dan petinggi kerajaan. di kaki gunung Penanggungan terdapat petirtaan (pemandian) Jolotundo yang dibangun antara tahun 899-977 M, dan dulu digunakan oleh keluarga kerajaan Majapahit. sekarang Jolotundo masih mengalirkan air dan berfungsi sebagai tempat wisata pemandian. masyarakat sekitar percaya bahwa air yang mengalir di Jaladwara (pancuran air di petirtaan Jolotundo) adalah amerta (air keabadian) karena berasal dari gunung Penanggungan, yang di anggap sebagai gunung suci.

Pada masa kejayaan Majapahit, gunung Penanggungan sering dikunjungi oleh Prabu Hayam Wuruk untuk bersembahyang atau sekedar menghabiskan waktunya di Jolotundo. bahkan dalam kekawin Negarakertagama pupuh 58:1 terdapat pujian terhadap gunung Penanggungan. disebutkan ketika sang Prabu yang suka jalan-jalan tersebut pulang dari perjalanan keliling Jawa Timur dari Lumajang ke kerajaannya, dia melewati Pasuruan dan singgah di Cunggrang. di Ceritakan bahwa dari Cunggrang (yang merupakan asrama para pertapa dan terletak di tepi lereng Penanggungan), Prabu Hayam Wuruk melihat pemandangan yang begitu indah dari gunung Penanggungan. bangunan suci di Penanggungan sebenarnya sudah ada sejak masa pra Hindu - Buddha, berfungsi sebagai tempat pemujaan terhadap arwah leluhur. pada masa Hindu - Buddha, bangunan tersebut beralih fungsi menjadi tempat pemujaan terhadap para Dewa. pada masa kejayaan Majapahit, para pertapa dan masyarakat banyak membangun lagi tempat pemujaan Dewa. tak heran Penanggungan menjadi gunung yang kaya akan situs arkeolgi

Jalur Pendakian:
1. Jalur Trawas
dari arah Surabaya atau Malang, naik bus dan turun di terminal Pandaan. terus naik angkot jurusan Trawas. dari Trawas kita bisa naik ojek menuju desa Rondokuning. pendakian dimulai dari Rondokuning melewati jalan setapak hutan. jarak Rondokuning - Puncak Penanggungan sekitar 3-4 jam jalan kaki.

2. Jalur Jolotundo
jalur Jolotundo adalah yang paling sering digunakan, karena jika kita lewat jalur ini kita akan menjumpai banyak situs-situs arkeologi berupa punden, petilasan, candi, dll.. untuk mencapai Jolotundo dari Trawas kita bisa naik minibus. jarak antara Jolotundo - Puncak Penanggungan sekitar 3-4 jam.

3. Jalur Ngoro
dari arah Malang atau Surabaya naik bus dan turun di pertigaan Japanan, setelah itu kita naik minibus jurusan Ngoro. dari Ngoro kita naik angkutan desa dan turun di desa Jedong. jalur pendakian yang ditempuh adalah melewati hutan lindung. medannya cukup landai, tanjakan yang cukup berat akan ditemui setelah kita melewati candi Wayan. 2 Km menuju puncak kita akan melewati medan dengan kemiringan sekitar 70-80 derajat. jalur Ngoro lebih sulit daripada Jolotundo dan Trawas

Kamis, 26 Januari 2012

TATO [RAJAH] MASYARAKAT DAYAK

0 komentar
Kali ini ane coba posting tentang seni tato dalam masyarakat Dayak, kemaren-kemaren sempat baca di majalah National Geographic : Traveler tentang tato masyarakat Dayak, setelah tadi ane baca lagi jadi kepikiran pengen posting tentang seni tato Dayak.. hehehe. anyway.. Bagi masyarakat Dayak di Kalimantan, tato adalah warisan budaya sekaligus penanda identitas. Corak motifnya menyerupai bentuk hewan dan tumbuhan. Hal ini berangkat dari pemikiran bahwa alam merupakan sesuatu yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat Dayak.

Mereka percaya, motif tato hewan atau tumbuhan akan memberikan kesuburan, keamanan, kebajikan, serta kesehatan. selain itu, pada masa lampau tato dianggap
menjauhkan makhluk halus pembawa penyakit. Dalam konteks kematian, tato dianggap suluh penerang dalam perjalanan menuju surga. artinya, tato memiliki makna sebagai media spiritual yang melindungi perjalanan hidup dan mati.

salah satu tetua suku Dayak
Masyarakat Dayak membuat tato menggunakan tinta dari jelaga kayu damar yang dibakar. tinta berwarna hitam itu ditusukkan dengnan jarum ke permukaan kulit, berdasarkan cetakan motif yang dikehendaki. sebelum dimulai, biasanya diadakan upacara adat atau ritual berdoa kepada nenek moyang. tujuannya agar proses pembuatan tato berjalan lancar.

Kini beberapa motif tato Dayak masih bisa ditemukan pada tetua-tetua Suku Kayaan Mendalam dan Dayak Iban di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. beberapa motif khas tato Iban seperti bunga terung, tengkawang jatuh, dan ketam, menghiasi tubuh para tetua di sana. sementara itu, tedak ujung kassa  (tato di ujung kaki), tedak ussu (di tangan), tedak hapii (di paha) menghiasi tubuh para perempuan yang telah uzur.. mereka adalah generasi terakhir dengan motif tradisional.

Arus modernisasi menguji kelanjutan eksistensi motif tato Dayak. budaya merantau jauh ke luar negeri membuat motif tradisional semakin kurang diminati di tanah asal. biasanya, kaum muda memilih motif modern di tempat rantau.

Tato masyarakat Dayak merupakan cerminan hubungan baik manusia dengan alam. seni penanda identitas yang bergerak menuju kepunahan. apakah seni tato khas Dayak ini sanggup bertahan??

Sumber:
National Geographic: Traveler [edisi Juli 2011]
http://id.wikipedia.org/wiki/Rajah
http://suaraborneo.com

Selasa, 24 Januari 2012

KENAPA HARUS NAIK GUNUNG??

0 komentar
ada satu kutipan "suatu bangsa tidak akan pernah kekurangan pemimpin apabila generasi mudanya suka naik gunung..", kenapa harus naik gunung? apa enaknya naik gunung? yang ga suka naik gunung pasti heran dan bertanya-tanya, kenapa ada manusia yang rela capek-capek bawa tas segede karung beras terus jalan kaki berkilo-kilo meter? kenapa ada manusia yang rela ngabisin malam tidur di dalam tenda dengan suhu sedingin kulkas? atau bersusah payah jalan merangkak lewat setapak sempit berbatu? atau mengambil resiko tersesat di gelapnya hutan rimba? kenapa ga disini aja? tidur enak, makan minum enak, ngapa-ngapain aja juga enak.. kenapa harus dipersulit? kenapa harus naik gunung?

ya, memang kalau dilihat dari sudut pandang seperti itu, naik gunung sama sekali tidak menyenangkan.. apa asyiknya jalan kaki sejauh 17 km? apa senengnya tersesat di hutan rimba? mau makan aja harus susah payah masak dulu, apa enaknya? di gunung juga ga ada listrik, ga ada sinyal, ga bisa internetan, ga bisa chatting, ga ada mall, ga ada kamar mandi.. bahkan banyak gunung yang ga ada sumber airnya.. trus kenapa masih ada yang suka naik gunung?

kenapa harus naik gunung?
jawaban setiap orang pasti berbeda, ada yang karena menyukai tantangan, gemar berpetualang, ada yang karena mencintai keindahan, kedamaian, dll.. apapun alasannya, sebenarnya banyak sekali manfaat yang didapat dari naik gunung.. di gunung kita akan mengerti bahwa dalam hidup ini ada yang lebih penting dari uang atau karir, kita akan belajar tentang kebersamaan, kita akan belajar bahwa diperlukan sebuah perjuangan untuk mendapatkan sesuatu yang berharga. ketika tersesat kita akan belajar bagaimana berfikir dan bersikap cepat, tanggap, dan tepat.. dan saat itu kita dituntut untuk selalu tenang dalam menghadapi apa yang ada di depan kita, kita akan belajar tentang mengambil resiko, tentang tanggung jawab, tentang keberanian.. kita akan menguji diri kita sendiri, melewati batas - batas yang mengurung diri kita, dll..

selain itu, dengan menyaksikan keindahan alam negeri ini, akan tumbuh suatu perasaan cinta yang kuat pada tanah air.. rasa nasionalisme. kita akan lebih menghormati warna merah putih sebagai warna bendera kita..

Soe Hok Gie pernah berkata "kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami, kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. seseorang hanya bisa mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. karena itulah kami naik gunung"

memang benar, patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. dan tanpa bermaksud sinis, mungkin bukan kenaikan gaji, kendaraan dinas mewah, atau kantor-kantor megah yang dibutuhkan wakil-wakil kita dipemerintahan, tapi sebuah perjalanan mendaki gunung. berjalan melihat keindahan alam dari negeri yang mereka pimpin. berbicara dengan bangsa ini melalui lidah-lidah rakyat pedalaman, memahami jiwa bangsa ini dari dekat.. menghayati dan menghidupkan lagi pancasila sebagai ideologi bangsa..

di gunung kita akan meninggalkan semua yang membuat kita nyaman, fisik dan mental kita benar-benar di uji. untuk menikmati keindahan alam yang tersembunyi di balik bukit-bukit terjal kita harus berjuang dulu, berjalan melewati rimba, naik turun tanjakan berbatu.. namun ketika kita sampai di tujuan, kita akan merasa bangga telah melewati semua rintangan, dan sekaligus merasa begitu kecil dihadapan kebesaran tuhan. dari situ akan timbul suatu perasaan aneh yang selalu membuat kita ingin kembali ke alam..

"seorang yang mencapai puncak gunung, menjadi saksi atas keindahan semesta, tidak bisa ia tidak berfikir tentang kebesaran tuhan."

dan jika masih ada yang tanya kenapa ada yang suka naik gunung? saya kira tidak ada satupun dari kita yang bisa menjawabnya, tidak ada jawaban untuk pertanyaan seperti itu, di gunung hanya ada sesuatu untuk dirasakan namun sulit di jelaskan.. harus naik gunung untuk bisa mengerti jawabannya.. :)