Tampilkan postingan dengan label Jawa Timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Timur. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Februari 2012

Cangar : Wisata Pemandian Air Panas [Malang]

0 komentar
Wisata ini terletak di kaki Gunung Welirang. tepatnya di dusun Cangar, desa Sumber Brantas, kecamatan Bumiaji, Kabupaten Malang. [kurang lebih 18 km dari kota Batu]. untuk menuju kawasan wisata pemandian air panas ini, pengunjung harus menggunakan kendaraan pribadi karena tidak ada akses angkutan umum.

Pemandian air panas cangar memiliki beberapa kolam, ada yang hangat, sedikit panas, bahkan sampai yang [lumayan] panas.. :) kolam yang tersedia juga beragam. mulai dari kolam buatan yang dialiri sumber air panas, hingga kolam alami yang terbentuk dari batuan dan tanah.

selain berendam di air hangat pengunjung juga bisa menikmati kuliner khas cangar yaitu tape ketan dan air tape. udara dingin pegunungan membuat kita bisa berlama-lama berendam di kolam hangat sambil menikmati kuliner tersebut.

Wisata Pemandian Air Panas Cangar
Pemandian air panas cangar merupakan kawasan yang masih alami, sepanjang perjalanan menuju kawasan ini kita akan menikmati panorama alam yang menakjubkan berupa hamparan hijau ladang penduduk dan hutan-hutan lebat kaki gunung welirang. di wisata air panas cangar sendiri masih banyak monyet-monyet hutan yang berkeliaran di pohon sekitar pemandian. dan jika kita menjelajah ke sisi-sisi hutan di sekitar pemandian ini kita akan menemukan banyak situs-situs sejarah berupa goa peninggalan zaman jepang. selain sebagai tempat wisata pemandian air panas, kawasan ini juga sering dijadikan sebagai bumi perkemahan pramuka.

Pemandian air panas cangar juga berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit.. ini dikarenakan Cangar terletak di kaki gunung welirang, dan sumber air panas disini mengandung zat belerang yang baik untuk kesehatan kulit. fasilitas yang di sediakan di pemandian ini cukup memadai, namun adanya perawatan dan pengembangan lebih lanjut masih sangat diperlukan.

nb:
Tiket masuk Rp 3000 / orang

Selasa, 14 Februari 2012

Summit Attack Gunung Welirang [3.156 mdpl] | Catatan Avonturir Part II

0 komentar
Kemaren ane uda bagi cerita tentang trip dadakan ane naik gunung welirang lewat posting Catatan Avonturir | Gunung Welirang [3.156 mdpl] Part I.. nah, sekarang ane mau lanjutin ke Part II nya yaaa.. langsung aja gan, cekidot.. 

February 11, 2012
00.57 WIB - Pos Kopkopan
kami masih bersantai menikmati pemandangan anggun yang terhampar luas di depan kami, langit sudah mulai cerah.. cahaya redup bintang bulan mampu menembus kabut tipis di sekitar kami. tidak terasa hampir satu jam kami bersantai disini. kami pun bersiap melanjutkan perjalanan, botol air kami isi ulang di sungai kecil, dan setelah cuci muka kami mulai berjalan melewati tanjakan berbatu yang masih setia menunggu kami. masih ada tiga jam perjalanan kaki sebelum mencapai pos pondokan.. masih banyak tanjakan yang menanti kami.

10 menit berjalan kami masih ngobrol santai, 20 menit kemudian kami mulai diam, 30 menit dari pos kopkopan kami berhenti untuk mengatur nafas.. bener2 trek yang menyiksa. hanya sebentar saja istirahat, mungkin sekitar 5 menit. setelah itu kami mulai berjalan lagi..

tanah dan bebatuan sepanjang trek yang kami lewati cukup licin, rumput dan semak2 di sekitar kami juga masih basah. mungkin bekas hujan tadi sore.. medan yang licin seperti ini membuat saya beberapa kali terpeleset, begitu juga dengan Jack.. kami berjalan pelan, fokus pada apa yang ada di depan kami. salah melangkah sedikit saja kita bisa jatuh.

trek pendakian gunung welirang via jalur tretes memang benar-benar menyiksa.. jalur yang kami lewati berupa tanjakan panjang berputar-putar tanpa ada bonus tanah landai. setelah satu jam berjalan saya melihat jack tertinggal beberapa meter di belakang, saya berhenti sejenak menunggunya. ketika sampai dia langsung duduk, dia bilang perutnya terasa agak mual.. mungkin masuk angin. 

benar saja, beberapa saat kemudian Jack muntah.. saya cukup kebingungan mengingat kita sama sekali tidak membawa P3K, saya melihat sekitar mencoba mencari daun kayu putih.. tapi dasar jack memang gila, melihat saya kebingungan dia malah mengeluarkan joke-joke segar yang membuat kami ngakak..

setelah 20 menit istirahat, kami pun melanjutkan perjalanan.. udara terasa semakin dingin bersama datangnya kabut. dan tanjakan-tanjakan terjal masih menghadang langkah kami. di tengah nafas yang semakin habis, saya lupa betapa empuk kasur yang saya tinggalkan di rumah, atau betapa hangatnya selimut tebal yang biasa menemani tidur saya. disini kami hanya berteman dengan dingin nya udara dan kerasnya batuan cadas.. disini kami berjuang. dan alam membimbing kami dalam pertarungan melawan diri sendiri, melawan semua kenyamanan yang biasa memanjakan kami.

tanjakan licin berbatu mengajarkan kami untuk fokus pada setiap langkah kami, fokus pada apa yang kami hadapi.. sekali lagi alam membuka sedikit rahasianya pada kami, mengajari kami sedikit tentang hidup. bahwa dalam hidup ini kita juga harus fokus pada apa yang kita kerjakan. sedikit saja kita lengah atau terbuai oleh khayalan-khayalan kosong maka kita akan terpeleset dan jatuh. fokus pada apa yang ada di depan kita..

sudah hampir dua jam setengah sejak kami mulai berjalan dari pos kopkopan, kami akhirnya menemui jalan landai sedikit menurun. seingat saya, jika sudah menemui jalan landai seperti ini maka pos pondokan sudah dekat. saya berkata pada jack bahwa tanjakan di depan adalah tanjakan terakhir sebelum pos pondokan. kami semakin bersemangat mempercepat langkah kami.. satu langkah, dua langkah, tiga langkah.. dan entah berapa langkah yang kami ambil untuk melewati tanjakan tersebut. saking semangatnya saya sedikit berlari ketika hampir mencapai ujung tanjakan. dan apa yang saya lihat sama sekali bukan seperti apa yang saya harapkan.. tidak ada pondokan.. hanya ada jalan tanjakan berkelok seperti yang sudah kami lewati. sight!!

kami melewati tanjakan tersebut dengan berjalan pelan, tenaga kami sudah terkuras.. setidaknya ada tiga tanjakan dan tiga tanah landai yang telah kami lewati. dan pos pondokan masih juga belum kelihatan. saya sudah hampir menyerah dan duduk istirahat menikmati sebatang rokok atau teh hangat. namun saya yakinkan pada diri sendiri bahwa pos pondokan Gunung Welirang sudah dekat.. jack juga terlihat sama lelahnya dengan saya. berkali kali dia tanya apa jarak kami dengan pos pondokan masih jauh? saya selalu menjawab mungkin sekitar 5 menit lagi kita akan sampai, tapi sudah hampir 30 menit sejak pertama kali dia tanya, pos pondokan masih belum kelihatan.. yang ada hanya tanjakan-tanjakan panjang jalan berbatu.

selangkah demi selangkah kami mulai berjalan.. tanjakan yang menyiksa fisik mulai menjadi sahabat bagi kami. pelan namun pasti akhrinya kami mencapai ujung tanjakan.. dari situ kami melihat atap alang-alang sebuah gubuk kayu. POS PONDOKAN!!!!. meskipun saya sudah pernah kesini namun sensasi yang saya rasakan tidak berubah, saya seperti memasuki dunia primitif.. bayangkan saja, di balik rimba yang gelap kami menemui beberapa gubuk kecil, berjajar rapi di bawah redupnya sinar bulan. dindingnya terbuat dari kayu beratap jerami. setelah melewati jalan panjang menembus hutan akhirnya kami sampai disini. pos pondokan.

pertama kali melihatnya saya merasa memasuki sebuah dunia lain, yang jauh dari kebisingan kota, jauh dari lampu-lampu kendaraan yang menyilaukan. tidak ada suara musik disini, yang kita dengar hanya suara angin yang menyatu dengan lengkingan liar binatang-binatang malam.

gubuk-gubuk tersebut di tinggali oleh para penambang belerang, mereka tinggal di sini setiap harinya, hanya turun ketika akhir pekan untuk berkumpul dengan keluarganya.. ya, hari senin sampai jum'at mereka habiskan di pondokan, tiap hari berjalan ke puncak untuk menambang belerang lalu turun ke pondokan. ketika akhir pekan barulah mereka bisa menikmati waktu bersama keluarga yang setia menunggu di rumah.. biasanya kalo hari sabtu banyak gubuk yang kosong, pemiliknya turun dan baru kembali pada hari minggu atau senin.

saya melihat jam menunjukkan pukul 04.00, saya lalu bergegas mencari gubuk kosong.. memang dari rumah kami tidak membawa tenda, kami sudah berencana untuk bermalam di dalam gubuk di pos pondokan.

akhirnya saya menemukan sebuah gubuk kecil kosong, hanya cukup untuk dua orang.. kami pun langsung masuk. bongkar muatan ransel dan menyiapkan logistik. kami hanya mengisi perut dengan roti cokelat dan teh hangat.. setelah bercengkerama sebentar, habis sebatang rokok kami pun tidur.

sebelum tertidur saya melihat jam menunjukkan pukul 04.30, saya juga sempat men-set alarm pukul 7.00 WIB. rencananya besok kami bangun jam 7 lalu makan pagi, setelah itu persiapan dan summit attack jam 9.00. jika sesuai rencana, saya perkirakan kami tiba di puncak paling lambat jam 12 siang.

semoga dua jam tidur sudah cukup memulihkan tenaga kami. saya ngantuk sekali, saya tidak ingat kapan terakhir kali saya tidur.. mungkin sudah lebih dari 40 jam saya terjaga.

BAB II - SUMMIT ATTACK
February 12, 2012
Saya terbangun jam setengah tujuh pagi, saya lihat jack juga sudah terbangun.. memang pagi ini dingin sekali, di dalam gubuk kayu yang terlindung dari angin pun kami masih merasakan dingin menembus tulang.. saya lalu pergi ke sungai mengambil air, Jack menyiapkan teh panas dan makan pagi.

menu makan kali ini berupa nasi putih dengan lauk ikan sarden. tidak terlalu ribet karena kami hanya tinggal menghangatkan makanan kaleng tersebut, sedangkan nasi putih sudah kami persiapkan dari bawah, kemaren kami sempat membeli sebungkus nasi putih di dekat pos pendakian Tretes.

kami menikmati makan pagi bersama kabut tipis yang mulai menghilang.. langit mulai terlihat cerah. suara burung - burung saling bersahutan memecah hening. gemericik air sungai bisa saya rasakan segarnya.. saya hanya berharap hari ini tidak turun hujan.

sekitar jam setengah sembilan kami mulai packing dan bersiap summit attack.. jam 9.00 pagi, langit berubah mendung ketika kami mulai berjalan. dan benar saja, hanya berjarak beberapa meter dari pondokan gerimis mulai turun.. saya diam sejenak. akhirnya kami mengambil keputusan untuk kembali ke gubuk dan menunggu sejenak.. mengingat kami memang tidak membawa ponco / raincoat

tidak terlalu lama, hanya berselang 20 menit gerimis benar-benar berhenti. namun ketika kami keluar dan mulai berjalan gerimis-gerimis kecil kembali menyapa.. ahh, sepertinya langit sedang menguji kesabaran kami. kami kembali ke gubuk.. kami pun menunggu.. 30 menit berlalu dan hujan masih belum berhenti. pada titik ini, kami harus mengambil keputusan. ada tiga pilihan, pertama: berjalan menembus hujan. kedua: menunggu hujan reda, jika hujan baru berhenti saat sore hari, maka kami akan turun tanpa mencapai puncak. ketiga: istirahat dan menunggu hingga besok, besoknya baru melakukan summit attack di pagi buta.

akhirnya kami membuat pilihan keempat: menunggu sampai jam 11 siang, apapun yang terjadi kami akan berangkat menuju puncak jam 11 siang.. entah saat itu hari cerah atau tidak.

Jam 11 siang langit menyisakan gerimis-gerimis kecil, meskipun demikian kami memutuskan untuk berjalan menuju puncak.. rumput-rumput terlihat basah oleh air hujan, setapak yang kami lewati sangat licin. kami harus ekstra hati - hati. 10 menit sejak berjalan kami sudah di hadapkan pada tanjakan yang cukup panjang. di tambah lagi medan yang licin membuat kami harus melangkah perlahan sambil mengatur pijakan kaki agar tidak terpeleset.

30 menit kemudian kami sudah basah kuyup, hujan mulai rapat.. dan langit semakin gelap oleh mendung. meskipun tenaga sudah cukup terkuras namun kami tidak bisa istirahat berlama-lama. sebentar saja kami berhenti, kami merasakan dingin yang teramat sangat.. satu-satunya cara untuk menahan dingin adalah dengan tetap bergerak. terus berjalan maju melewati tanjakan licin berbatu yang menghadang kami..

sekitar pukul 12.00 kami sudah keluar hutan, kami tiba di bukit-bukit yang dipenuhi edelweis dan bunga - bunga lain yang saya tidak tahu namanya.. jalan tanjakan yang kami lalui berubah menjadi sungai kecil yang mengalirkan air hujan.. angin kencang seperti menampar wajah kami dengan dinginnya.. kami berusaha membangun kembali kepercayaan diri kami yang mulai rapuh, lalu melangkah setapak demi setapak melewati bebatuan licin.

sekitar pukul 12.30, ditengah deras nya hujan yang mengguyur tubuh kami, samar-samar saya bisa mencium bau belerang.. saya yakin puncak sudah dekat. namun hujan semakin deras.. dan kilat berkali - kali terlihat menyambar di langit yang kelabu.. sesekali terdengar suara petir yang memekakkan telinga.. sebenarnya kami mulai ragu untuk melanjutkan perjalanan, namun pada titik ini kami tidak mungkin kembali.. jarak yang sudah kami tempuh kepalang tanggung. puncak sudah berdiri anggun di depan kami. dan saat ini kami tidak mungkin untuk menyerah.. 

ada rasa cemas, ada rasa takut.. dan dalam kondisi seperti ini, seorang manusia tidak bisa untuk tidak memikirkan tuhan.. alam memang selalu mempunyai cara tersendiri untuk membuat kita berpikir tentang kebesaran tuhan. Hari ini, kami merasa begitu kecil di hadapan kekuasaan-Nya..

hujan semakin terasa aneh, dingin yang kami rasakan sungguh luar biasa.. saya mencoba memperhatikan sekitar dan saya baru menyadari ternyata hujan kali ini bukanlah hujan air biasa, melainkan butir-butir kristal es.. hujan es!!! pantas saja, jalan setapak yang membentang di depan kami terlihat berkilauan. diantara cuaca yang tidak bersahabat, alam masih memperlihatkan sedikit keindahannya..

kami melangkah perlahan, angin bertiup semakin kencang kearah kami membawa aroma belerang yang sungguh menyengat.. kami lalu berbelok ke arah kanan, meninggalkan jalan setapak yang biasa di gunakan para penambang belerang, kami mengambil jalur melewati bukit untuk menghindari asap belerang yang meyengat.. hujan es masih turun mesra menyapa kami.

pukul 13.12 kami tiba di goa, tempat ini berjarak sekitar 15 menit dari puncak.. tinggal sedikit lagi!!! bagi pendaki yang mengambil jalur mengikuti jalan setapak yang biasa digunakan para penambang belerang mungkin tidak akan menemui goa ini.. letaknya cukup tersembunyi di balik bukit. tempat ini sebenarnya bukan goa, melainkan sebuah bukit batu yang agak menjorok kedalam. menjadikan tempat tersebut terlindung dari angin dan hujan.. kami memutuskan untuk berisirahat sebentar disini.. kami memilih untuk menunggu hujan reda, selain karena memang tenaga kami yang cukup terkuras, kami juga tidak ingin kehilangan kesempatan mengabadikan moment di puncak, karena itulah kami memilih menunggu hujan reda agar bisa mengambil beberapa foto di puncak welirang.

hujan es mulai berubah menjadi gerimis-gerimis kecil, dan angin kencang sudah tidak kami rasakan, namun kilat-kilat masih sering terlihat di langit yang gelap, dan suara petir masih terdengar begitu menyeramkan..

di dalam goa kami membongkar muatan ransel.. tubuh saya menggigil, begitu juga jack.. seluruh badan kami bergetar hebat. bahkan untuk menyalakan korek api pun kami tak mampu. masih ada rasa cemas, masih ada rasa takut.. namun disinilah kami benar-benar menyadari betapa kecilnya kami di hadapan tuhan. dan jika sudah seperti ini, masih bisakah kami bersikap sombong???

sebentar kami berdo'a.. hari ini, kami menghilangkan segala angkuh dan sombong yang pernah kami rasakan.. kami kembali pada Sang Penguasa dengan batin telanjang, mengakui betapa rapuhnya jiwa kami..

pukul 13.46 hujan sudah benar-benar berhenti, meskipun langit tidak menampakkan warna birunya namun awan yang tadinya gelap berubah jadi putih.. kami menikmati secangkir teh panas dan beberapa batang rokok kretek.. pakaian kami masih basah, badan kami masih menggigil.. udara masih terasa dingin. 

pukul 14.05 kami mulai bersiap menuju puncak.. kabut masih menyelimuti langkah kami, namun langit sudah sedikit terang. dan semangat kami telah kembali.. kami beralan melewati bukit berbatu.. nampak batu-batu di sekitar setapak yang kami lalui mengeluarkan asap. di atas bukit, pemandangan yang kami lihat sungguh indahnya.. disini kami menyaksikan haparan padang kerikil-kerikil putih, di hiasi bunga-bunga yang penuh warna.. sementara itu di depan kami puncak terlihat jelas, seperti tersenyum menyambut kedatangan kami.. kami semakin mempercepat langkah kami, bahkan sedikit berlari.. semakin dekat dengan puncak.. saya tersenyum, saya menoleh kebelakang dan saya lihat jack tertawa.. tanpa sadar kami semakin mempercepat langkah kami. dan akhirnya, puncak welirang..!! setibanya di puncak, kami langsung melepas ransel dan bersujud mengucap syukur pada tuhan.. Puncak Welirang telah kami gapai. kami berdiri bangga di ketinggian 3.156 meter di atas permukaan laut. perasaan aneh yang mendamaikan menyelimuti batin kami.. sekali lagi kami mengucap syukur.. 

sebenarnya dari puncak welirang kita bisa melihat gunung Arjuno berdiri gagah memamerkan puncak ogal-agil-nya. namun hari ini kabut menyelimuti kami.. Arjuno seperti menghilang, bahkan kaldera gunung welirang pun tidak terlihat.. namun semua itu tak mampu menghalangi kami untuk merasakan sensasi luar biasa menggapai puncak.. dan setelah beberapa saat menikmati moment pencapaian puncak, kami lalu mulai mengambil beberapa foto.. [it's time to narsis.. hehehe]

setelah kami rasa cukup, sekitar pukul 15.00 kami mulai turun.. kami juga sempat mengambil beberapa foto di bukit indah yang tadi kami lewati.. sebentar saja kami di situ sebab langit kembali gelap. mendung datang menyapa kami..

jarak yang harus kami tempuh kali ini lebih jauh, dan mengingat medan yang akan kami lalui menjadi semakin licin oleh hujan, saya perkirakan kami akan mencapai pos pondokan dalam waktu dua jam. [seharusnya perjlanan turun bisa dicapai dalam waktu 1 - 1,5 jam].. dari pondokan kami masih harus turun ke pos kopkopan dan langsung menuju pos pendakian bawah. rencananya kami memang akan lansung turun dan pulang ke Malang hari ini..

gerimis mulai menyapa ketika kami tiba di goa.. kami mampir sebentar di dalam goa dan membongkar ulang muatan dalam ransel. saya bungkus tas kamera dengan plastik ukuran besar, lalu saya masukkan ke dalam carrier. setelah saya rasa aman dan terlindung dari air hujan kami pun mulai bersiap pulang.. saya lihat mendung semakin pekat, dan angin dingin kembali menampar wajah kami ketika kami melangkah keluar goa.. sebentar kami berhenti, membangun kepercayaan diri dan mencoba menguatkan batin kami.. setelah itu kami mulai berjalan.. tidak lupa kami mengawali langkah kami dengan do'a.. perjalanan turun nyambung di part III
wah.. ceritanya kok jadi panjang gini ya??? padahal niatnya kan cuma share cerita singkat.. hehehe...

Baca catatan avonturir - gunung welirang:
>>PART II [Lanjutan Bab I - Berangkat] [Bab II - Summit Attack]<<
>PART III [ Bab III - Pulang] [Epilog]<

Puncak Welirang - Oktober 2011 [cuaca cerah]
Puncak Welirang - Februari 2012 [berkabut]
Zacky [Jack]

Senin, 13 Februari 2012

Catatan Avonturir | Gunung Welirang [3.156 mdpl] via Jalur Tretes - PART I

0 komentar
Posting kali ini ane mau berbagi cerita tentang trip dadakan ane naik gunung Welirang.. yup, kemaren ane naik gunung ini via jalur Tretes [maaf buat temen2 blogger, kemaren ane absen blogwalking. hehe] langsung aja gan..


PROLOG
February 10, 2012
Jum'at malam tanggal 10 Februari 2012, saya dan beberapa kawan [jack, dora, malik, dan dika] nongkrong di angkringan jln.soekarno-hatta Malang. entahlah, tiba2 muncul di pikiran saya untuk naik gunung, saya sudah kangen parah sama hawa dingin pegunungan. maklumlah, dua bulan ini saya ga kemana-mana. saya lalu membicarakan rencana tersebut kepada kawan2, kebetulan si Jack baru beli carrier, dia bersemangat dengan ide ini.. dika dan dora tidak bisa ikut karena ada acara di kampus, si malik juga ga bisa ikut karena ada urusan di Surabaya. 

akhirnya hanya saya dan jack saja yang sepakat untuk naik gunung.. karena kita hanya punya waktu 2 hari [sabtu - minggu], akhirnya kita memutuskan untuk naik gunung welirang..

saya lalu cari pinjaman kamera, saya sms beberapa kawan yang punya camdig.. alhamdulillah, akhirnya kita dapet pinjeman DSLR Canon EOS 1000D dari si Wahyu [thanks yu]. selesai nongkrong kami langsung meluncur ke kostnya Wahyu ambil kamera. rencananya besok kami berangkat ke Tretes jam 9 pagi.

pulang dari kost Wahyu kita langsung menuju kontrakan. sampai di kontrakan jam 3 pagi. Jack dan Dora langsung tidur, Malik dan Dika asyik surfing di dunia maya.. meskipun saya sudah 24 jam tidak tidur tapi sepertinya saya juga masih belum ngantuk, akhirnya saya memutuskan untuk main blog sebentar. cangkir kopi saya isi penuh lalu upload artikel tentang Tanjung Lesung [Banten], setelah itu saya asyik melakukan blogwalking.. tidak terasa hari sudah terang.

BAB I - BERANGKAT
February 11, 2012
Manusia memang hanya bisa merencanakan, Tuhan lah yang mengatur semuanya.. rencana kita berangkat ke Tretes jam 9 pagi tertunda karena kedatangan tamu dari Kediri, akhirnya kita baru bisa berangkat dari Malang jam 18.30.

Jalanan ramai sekali, saya mengendarai motor dengan santai.. tidak terlalu pelan, tidak juga ngebut. setelah 90 menit perjalanan, kita pun sampai di Pos Pendakian Gunung Welirang di Tretes - Prigen. kita lalu memarkir motor dan mengurus surat ijin pendakian

Perijinan Gunung Welirang:
Foto copy KTP
Biaya administrasi + Asuransi: Rp 3.000 / orang

Setelah selesai mengurus surat ijin pendakian kita mencari warung makan, suasana di Tretes pada malam minggu ramai sekali, kita menikmati makan malam kami sambil ngobrol ngalur ngidul memperhatikan lampu kendaraan yang berseliweran..

Pendakian di mulai pukul 21.02, kita berjalan santai.. udara malam terasa dingin, semakin masuk ke dalam hutan suasana semakin sepi, hanya ada suara-suara binatang malam.. langit pun terlihat sangat gelap, cuaca memang sedang mendung. kami hanya berharap malam ini tidak turun hujan.

sekitar 30 menit berjalan kaki kami berpapasan dengan 3 orang pendaki asal ITS Surabaya, mereka berjalan pincang dengan muka pucat sekali.. kami hanya berbincang sebentar, 2 orang dari mereka diam saja.. mungkin kelelahan.

melihat kondisi kelompok tadi, Jack mulai khawatir dengan medan yang akan kami lewati.. memang dia naik gunung welirang untuk pertama kalinya, sedangkan saya sudah pernah naik gunung ini.. jalur yang akan kami lewati memang penuh dengan tanjakan panjang yang menguras tenaga, tapi saya yakinkan pada Jack bahwa kita pasti bisa melewatinya.. kami mulai berjalan, tidak terlalu cepat.. santai namun dengan langkah pasti.

setelah satu jam berjalan kami menemui sebuah tanah landai, kami beristirahat sebentar menikmati sebatang Marlboro.. view dari tempat ini indah sekali, kita bisa melihat pemandangan lampu-lampu kota jauh di bawah sana. sungguh indah sekali.. seperti biasa, kami membicarakan hal-hal konyol yang bikin ngakak. atau sok berfilosofi ala pemikir ulung. sekedar untuk melupakan lelah.. namun dari pembicaraan kami yang konyol dan sok tau, ada juga pelajaran yang bisa di ambil.. salah satunya adalah kami sepakat bahwa hidup itu haruslah seperti mendaki gunung "urip iku kudune koyok munggah gunung, santai tapi pasti.. nek terlalu ngoyok malah kepegelen, nek terlalu lambat terus istirahat terlalu suwe malah nggarai males. istirahat sa'cukupe, mlaku ga usah terlalu ngoyok.. santai ae. seng penting ga lali karo tujuan yaitu puncak"

"hidup itu haruslah seperti mendaki gunung, santai tapi pasti.. kalau berjalan terlalu cepat atau terlalu memaksa malah bikin kecapaian, [kondisi fisik dan mental kita bisa drop]. kalau terlalu lambat dan istirahat terlalu lama malah bikin kita malas melangkah. istirahat secukupnya, berjalan tidak perlu terlalu cepat atau memaksa.. santai saja.. yang penting kita tidak lupa dengan tujuan kita yaitu puncak." intinya kami sepakat bahwa hidup itu haruslah mempunyai tujuan, mimpi dan cita-cita. dan untuk mencapainya kita tidak perlu berlari.. kita cukup berjalan.. biarpun pelan namun dengan langkah yang pasti dan penuh keyakinan.. tanpa ada kata menyerah.

seperti mendaki gunung, untuk mencapai puncak tidak ada jalan yang mudah. begitu juga hidup, untuk mencapai mimpi dan cita-cita tidak ada jalan yang gampang, untuk merasakan dan meresapi keindahan alam kita harus rela melewati gelapnya rimba, jalan berbatu, atau tanjakan - tanjakan yang membuat kaki kita serasa patah. namun kita harus tetap percaya bahwa puncak masih berdiri anggun di balik tanjakan dan gelapnya rimba..

bahwa dalam hidup ini kadang kita jatuh atau kelelahan, namun mimpi dan cita-cita masih menunggu di depan sana. yang perlu kita lakukan adalah bangkit dan mulai berjalan selangkah demi selangkah dengan penuh keyakinan, selalu menambah satu langkah dari jarak yang telah kita ambil.. tanpa ada kata menyerah.

Setelah istirahat kami rasa cukup, kami mulai berjalan.. headlamp saya mulai redup, tapi masih terlihat terang di bawah langit yang begitu gelap.. baterei yang saya gunakan adalah baterei bekas pendakian di Gn.Lawu pada Desember 2011 kemaren, dan tadi waktu berangkat saya lupa membeli baterei baru.. sial!! 

awalnya kami berjalan sambil ngobrol ga jelas sesekali tertawa, setelah 30 menit kami mulai diam, nafas kami mulai habis, suasana sepi sekali, kami hanya mendengar nafas kami yang semakin memburu, bersahutan dengan suara binatang-binatang malam.. sedangkan tanjakan masih terlihat begitu panjang.. setiap 10-15 menit berjalan kami diam mengatur nafas dan mengistirahatkan kaki selama 60 detik, setelah itu kami berjalan lagi.. carrier di pundak saya terasa lebih berat..

Saya melihat jam menunjukkan pukul 23.51 ketika saya mulai mendengar suara air.. saya yakin suara tersebut berasal dari Pos Kopkopan [sumber mata air pertama], setelah saya hitung ternyata hampir tiga jam sejak kita mulai berjalan dari pos pendakian. 3 jam adalah jarak waktu yang normal antara pos pendakian dengan pos kopkopan.. saya lalu berkata pada Jack yang berada di belakang saya bahwa tanjakan depan adalah yang terakhir sebelum pos kopkopan.. 

benar saja, setelah melewati tanjakan berliku penuh bebatuan, saya akhirnya mencapai sebuah tanah lapang.. Kopkopan adalah sebuah tempat dengan view yang sangat indah, dari sini kita bisa melihat lampu-lampu kota terhampar luas.. bagaikan jutaan bintang yang jatuh ke bumi, lalu seperti enggan berpulang ke langit mereka menetap di atas tanah yang luas.. indah sekali..

Pos Kopkopan biasanya cukup ramai di akhir pekan, beberapa pendaki biasanya banyak yang menghabiskan malam minggu disini, tidak ada niat menuju puncak, hanya sekedar melepas rasa bosan pada ramai dan bisingnya kota sambil menikmati pemandangan cantik dari pos kopkopan.. namun hari ini saya hanya melihat satu tenda, dan sepertinya penghuni tenda tersebut sudah terlelap.

seperti yang kami perkirakan, kami tiba di Pos Kopkopan pukul 00.00.. tujuan kami adalah Pos Pondokan [Pos terakhir sebelum puncak], kopkopan dan pondokan berjarak sekitar 3 jam jalan kaki. rencananya kami akan mulai berjalan lagi pukul 01.00.. 

kami pun melepas lelah sambil menikmati hamparan luas lampu-lampu perkotaan yang terlihat begitu anggun..
wah wah wah.. ga terasa cerita ane uda cukup panjang, padahal itu belum setengah perjalanan gan.. terpaksa nyambung ke part II ya.. :), oh ya, ga ada foto yang bisa di upload.. ane dan kawan ane baru bisa narsis pas nyampe di pos pondokan.. hehe

Baca catatan avonturir - gunung welirang:
>>PART I [Prolog] [Bab I - Berangkat]<<
>PART II [Lanjutan Bab I - Berangkat] [Bab II - Summit Attack]<
>PART III [Bab III - Pulang] [Epilog]< 

Senin, 30 Januari 2012

G-Land Banyuwangi [Pantai Plengkung] - Tempat Surfing Terbaik di Dunia

0 komentar
Teluk Grajagan
Jika anda hobi berselancar maka anda pasti sudah tahu tentang G-Land di Banyuwangi, atau oleh masyarakat lokal disebut Pantai Plengkung, Banyak peselancar kelas dunia yang menganggap G-Land [pantai Plengkung] sebagai The Seven Giant Waves Wonder, atau salah satu dari 7 tempat surfing terbaik di dunia. memang tak aneh jika di sebut demikian. G-Land memiliki ombak besar dan panjang yang sangat di impikan oleh para
peselancar profesional, tinggi ombak di pantai Plengkung [G-Land] mencapai 6-8 meter dengan panjang ombak lebih dari 2 km. di pantai pula ini pernah diadakan lomba selancar internasional Quicksilver Pro Surfing Championship pada tahun '95, '96, dan '97.

G-Land atau Pantai Plengkung terletak di kawasan Taman Nasional Alas Purwo, untuk mencapai G-Land / Pantai Plengkung, jika menggunakan angkutan umum dari arah Banyuwangi naik bus menuju Kalipahit (sekitar 60 km), dari Kalipahit dilanjutkan dengan naik ojek menuju Pasar Anyar yang berjarak sekitar 4 km, dari Pasar Anyar pengunjung bisa menumpang mobil pick-up menuju Pos Pancur (jaraknya sekitar 15 km), dan dari Pos Pancur hanya berjarak sekitar 8 km sebelum mencapai Pantai Plengkung [G-Land]. di G-Land sendiri terdapat sebuah helipad untuk mereka yang melewati jalur udara dengan menggunakan helikopter.

G-Land, East Java
bisa dikatakan fasilitas di G-Land sudah cukup lengkap, mulai dari Bar, Restaurant, Bungalow, Jangle Camp, dll.. disini juga disediakan sewa papan selancar. kebanyakan harga yang ditawarkan di Bar, Restaurant, atau Bungalow adalah dalam pecahan dollar, hal ini wajar mengingat banyaknya wisatawan asing yang datang ke tempat ini. oh ya, pada hari-hari tertentu di TN Alas Purwo  juga terdapat pementasan kesenian budaya rakyat. hal ini tentu saja menjadi satu hiburan tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung.

Pantai Plengkung disebut G-Land karena tiga hal, pertama karena diambil dari nama teluk Grajagan, kedua diambil dari kata Green karena letaknya di tepi hutan tropis yang hijau, dan ketiga diambil dari kata Great karena ombaknya yang begitu besar dan panjang..

Bagi peselancar, waktu terbaik mengunjungi G-Land di Banyuwangi adalah bulan Juli-September, saat itu ombak di G-Land [Pantai Plengkung] sedang bagus-bagusnya. Ombak di pantai ini dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu Kong Waves [tinggi ombak mencapai 6-8 meter], Speedis Waves [5-6 m], dan Many Track Waves [3-4 m]. ombak tingkat terakhir [many track] biasanya digunakan para peselancar pemula untuk mengasah skill mereka.

nah, jika anda hobi berselancar maka G-Land atau Pantai Plengkung merupakan wisata yang wajib di kunjungi.. jika anda tidak mempunyai hobi berselancarpun tetap saja pantai ini layak di kunjungi.. :) selain bisa menikmati eksotisme pantai Indonesia yang sudah begitu terkenal di mancanegara kita juga bisa menikmati panorama alam Taman Nasional Alas Purwo yang menakjubkan. dengan segala habitat yang hidup didalamnya.. oh ya, satu lagi.. sunset di pantai plengkung tidak kalah indahnya dengan sunset di pulau Bali, moment matahari terbenam di pantai Plengkung [G-Land] menjadi pemandangan yang sangat di tunggu para wisatawan.. :) salam lestari

senja pantai plengkung [g-land] banyuwangi

Jumat, 27 Januari 2012

Wisata Alam Kota Surabaya [Ekowisata Pantai Hutan Mangrove]

0 komentar
menyusuri sungai hutan mangrove
Surabaya adalah kota metropolitan, masyarakat luar Surabaya tidak banyak yang tahu kalau ternyata Surabaya memiliki wisata alam yang cukup menarik untuk di kunjungi. di tengah ramai dan panasnya udara kota ini, Surabaya masih menyimpan satu tempat wisata alam yaitu kawasan pantai hutan mangrove [bakau] yang terletak garis pantai timur Surabaya. atau lebih tepatnya di Wonorejo - Kec.Rungkut, Surabaya

Pengelola ekowisata hutan mangrove Surabaya menyediakan paket tour untuk pengunjung, beberapa fasilitas wisata yang terdapat disini adalah perahu berkapasitas 10 dan 40 orang serta Pemandu Wisata, untuk menikmati ekowisata hutan mangrove, pengunjung dibawa berkeliling menggunakan perahu menyusuri sunga-sungai yang
membelah hutan dan menjelajah beberapa tempat di kawasan hutan mangrove dengan ditemani seorang pemandu wisata. pengunjung juga bisa bersantai sambil menikmati pemandangan pantai timur Surabaya dari gazebo di tepi hutan mangrove

gazebo di tepi hutan mangrove
Hutan mangrove Surabaya memiliki berbagai jenis fauna yang terdiri dari ratusan spesies burung [beberapa diantaranya berasal dari spesies burung yang dilindungi], dan kera / monyet. Hutan mangrove Surabaya juga menjadi tempat singgah burung migran -kebanyakan merupakan spesies burung dari Australia yang menuju ke Eropa-.

view from gazebo
Di kawasan ekowisata hutan mangrove Surabaya juga terdapat kuliner seafood seperti bandeng bakar, dll.. selain itu juga banyak terdapat berbagai jenis oleh-oleh khas Surabaya lainya. dengan mengunjungi ekowisata hutan mangrove Surabaya anda akan bisa melihat sisi lain kota ini, yang jauh dari keramaian pusat perbelanjaan, atau gedung-gedung perkantoran.

GUNUNG PENANGGUNGAN - Saksi Bisu Kejayaan Masa Lampau

0 komentar
Gunung Penanggungan
Dikenal memiliki nilai sejarah tinggi karena di sekujur lerengnya terdapat banyak peninggalan purbakala, baik berupa candi, pertapaan, ataupun petirtaan. peninggalan sejarah di gunung penanggungan berasal dari periode Hindu - Buddha di Jawa Timur.. gunung Penanggungan (atau dikenal sebagai gunung Pawitra yang artinya kabut) terletak di perbatasan Kab. Pasuruan dan Kab. Mojokerto. jika kita melakukan perjalanan darat Surabaya - Malang, selepas keluar dari jalan tol Gempol, akan terlihat gunung Penanggungan dengan kondisi puncaknya yang tandus, tampak
seperti miniatur Gunung Semeru.

Gunung Penanggungan berada dalam pegunungan Penanggungan yang terdiri dari Gunung Penanggungan (1.653 mdpl), dan beberapa bukit yang mengelilinginya yaitu Bukit Bakel (1.238 mdpl), Gajah Mungkur (1.084 mdpl), Sarah Klopo (1.235 mdpl), dan Bukit Kemuncup (1.238 mdpl). puncak gunung Penanggungan terdiri dari batuan cadas dan rerumputan. pada malam hari, udara di puncak penanggungan berkisar antara 10-15 derajat celcius, sedangkan pada siang hari berkisar antara 15-25 derajat celcius.

puncak berkabut Penanggungan - Desember 2010
Vegetasi yang menutupnya merupakan kawasan hutan dipterokarp bukit, hutan dipterokarp atas, hutan montane, dan hutan ericaceous atau hutan gunung. berbagai macam flora yang dijumpai di Gunung Penanggungan adalah jenis-jenis tanaman rimba seperti jempurit, kluwak, ingas, kemiri, dawung, bendo, wilingo, dan jabon. disana juga banyak ditemui tumbuhan seperti laos, kunir, dan jahe.

Medan yang ditempuh menuju puncak Penanggungan meliputi medan datar, landai, miring, berbukit, dan berjurang. di kaki gunung, keadaan medannya landai sampai sekitar 2 km, naik ke atas kemiringannya berkisar antara 30 sampai 40 derajat. di bagian perut gunung agak curam, berkisar 40 sampai 50 derajat. sampai di dada gunung banyak jurang-jurang dengan kemiringan berkisar antara 50 sampai 60 derajat. dari leher sampai puncak kita akan melewati medan curam berbatu, licin, dengan kemiringan berkisar antara 60 -70 derajat. sampai di puncak, batu-batu cadas akan nampak di sana-sini, dekat dengan puncak kita akan menemui sebuah goa kecil yang bisa di gunakan untuk berlindung dari badai.

referensi:
http://www.belantaraindonesia.org/2010/10/gunung-penanggungan.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Penanggungan

PENINGGALAN SEJARAH

Sekitar tahun 1920-an, terjadi kebakaran hutan di lereng Penanggungan bagian barat, kebakaran inilah yang mengawali penemuan puluhan situs arkeologi dan ratusan artefak di Gunung Penanggungan. Tahun 1925, WF Stuterheim mengadakan penelitian di Gunung Penanggungan kemudian menyimpulkan makna Penanggungan bagi masyarakat Jawa kuno. banyaknya bangunan suci di lereng Penanggungan membuktikan bahwa gunung Penanggungan erat kaitannya dengan tradisi pemujaan kepada para Dewa atau arwah leluhur. Bangunan suci itu berupa punden berundak, altar persajian, dan goa pertapaan yang berfungsi sebagai pelataran tempat dijalankannya ritual - ritual keagamaan Menurut WF Stutterheim, masyarakat jawa kuno menganggap gunung Penanggungan sebagai puncak gunung Semeru.

Penjelasan WF Stutterheim itu juga berdasar pada kitab Tantu Panggelaran. dalam kitab tersebut disebutkan bahwa Bhatara Guru menugaskan Brahma dan Wisnu untuk mengisi pulau Jawa dengan manusia. dan karena pulau Jawa selalu di landa goncangan, maka para dewa memindahkan gunung Mahameru dari India ke Jawa. dalam perjalanan memindahkan gunung tersebut, bagian Mahameru berguguran menjadi gunung - gunung yang berjajar di sepanjang pulau Jawa. tubuh gunung Mahameru diletakkan agak miring menyandar pada gunung Brahma (Bromo) dan enjadi gunung Semeru. puncak Mahameru sendiri adalah gunung Penanggungan. (cerita lain menyebutkan bahwa gunung penanggungan merupakan puncak dari gunung Arjuno, para Dewa memotong puncak gunung Arjuno untuk membangunkan arjuna dari pertapaannya)

VR Van Romondt, seorang arkeolog asal Belanda yang telah beberapa kali melakukan penelitian di gunung Penanggungan pada tahun 1951 mencatat terdapat sekitar 81 buah situs arkeologi di lereng Penanggungan. peninggalan sejarah tersebut telah banyak yang rusak karena kurangnya perawatan atau akibat bencana alam (longsor, badai, dll), pada awal era orde baru juga tidak jarang terjadi pencurian benda-benda arkeologi yang menyebabkan peninggalan sejarah di lereng Penanggungan semakin berkurang. pada tahun 1991, inventarisasi lebih lanjut dilakukan oleh DITLINBINJARAH mencatat tersisa sekitar 51 situs sejarah yang bisa di jumpai. Tahun 2010 jumlahnya menjadi sekitar 42.

referensi:
Asal Mula Gunung di Pulau Jawa - 2005, Pustaka Jaya
http://www.belantaraindonesia.org/2010/10/gunung-penanggungan.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Penanggungan

SAKSI BISU KEJAYAAN MASA LAMPAU

Gunung Penanggungan dianggap suci oleh masyarakat Jawa kuno, merupakan tempat mensucikan diri bagi para pertapa, raja-raja, keluarga dan petinggi kerajaan. di kaki gunung Penanggungan terdapat petirtaan (pemandian) Jolotundo yang dibangun antara tahun 899-977 M, dan dulu digunakan oleh keluarga kerajaan Majapahit. sekarang Jolotundo masih mengalirkan air dan berfungsi sebagai tempat wisata pemandian. masyarakat sekitar percaya bahwa air yang mengalir di Jaladwara (pancuran air di petirtaan Jolotundo) adalah amerta (air keabadian) karena berasal dari gunung Penanggungan, yang di anggap sebagai gunung suci.

Pada masa kejayaan Majapahit, gunung Penanggungan sering dikunjungi oleh Prabu Hayam Wuruk untuk bersembahyang atau sekedar menghabiskan waktunya di Jolotundo. bahkan dalam kekawin Negarakertagama pupuh 58:1 terdapat pujian terhadap gunung Penanggungan. disebutkan ketika sang Prabu yang suka jalan-jalan tersebut pulang dari perjalanan keliling Jawa Timur dari Lumajang ke kerajaannya, dia melewati Pasuruan dan singgah di Cunggrang. di Ceritakan bahwa dari Cunggrang (yang merupakan asrama para pertapa dan terletak di tepi lereng Penanggungan), Prabu Hayam Wuruk melihat pemandangan yang begitu indah dari gunung Penanggungan. bangunan suci di Penanggungan sebenarnya sudah ada sejak masa pra Hindu - Buddha, berfungsi sebagai tempat pemujaan terhadap arwah leluhur. pada masa Hindu - Buddha, bangunan tersebut beralih fungsi menjadi tempat pemujaan terhadap para Dewa. pada masa kejayaan Majapahit, para pertapa dan masyarakat banyak membangun lagi tempat pemujaan Dewa. tak heran Penanggungan menjadi gunung yang kaya akan situs arkeolgi

Jalur Pendakian:
1. Jalur Trawas
dari arah Surabaya atau Malang, naik bus dan turun di terminal Pandaan. terus naik angkot jurusan Trawas. dari Trawas kita bisa naik ojek menuju desa Rondokuning. pendakian dimulai dari Rondokuning melewati jalan setapak hutan. jarak Rondokuning - Puncak Penanggungan sekitar 3-4 jam jalan kaki.

2. Jalur Jolotundo
jalur Jolotundo adalah yang paling sering digunakan, karena jika kita lewat jalur ini kita akan menjumpai banyak situs-situs arkeologi berupa punden, petilasan, candi, dll.. untuk mencapai Jolotundo dari Trawas kita bisa naik minibus. jarak antara Jolotundo - Puncak Penanggungan sekitar 3-4 jam.

3. Jalur Ngoro
dari arah Malang atau Surabaya naik bus dan turun di pertigaan Japanan, setelah itu kita naik minibus jurusan Ngoro. dari Ngoro kita naik angkutan desa dan turun di desa Jedong. jalur pendakian yang ditempuh adalah melewati hutan lindung. medannya cukup landai, tanjakan yang cukup berat akan ditemui setelah kita melewati candi Wayan. 2 Km menuju puncak kita akan melewati medan dengan kemiringan sekitar 70-80 derajat. jalur Ngoro lebih sulit daripada Jolotundo dan Trawas